Asal-Usul dan Budaya di Balik Asam Cekala Sebagai Warisan Kuliner Nusantara dari Sumatera
Chahaya Simanjuntak• Kamis, 10 Juli 2025 | 21:32 WIB
ILUSTRASI asam cekala atai buah dari tanaman kecombrang.
Batampos - Asam cekala, atau dalam bahasa lokal sering disebut juga asam patikala. Merupakan salah satu rempah khas dari wilayah Sumatera Utara, terutama dikenal di kalangan masyarakat Batak Toba dan Karo.
Rempah ini bukan sekadar bumbu dapur, melainkan bagian dari identitas budaya dan tradisi kuliner yang diwariskan turun-temurun.
Asam cekala berasal dari tanaman kecombrang. Sejenis tumbuhan rempah dari keluarga Zingiberaceae atau jahe-jahean. Umumnya, bagian yang digunakan adalah batang mudanya yang memiliki aroma tajam dan rasa asam khas. Di daerah Batak, batang ini ditumbuk atau diiris halus untuk digunakan sebagai penyedap alami dalam berbagai masakan tradisional seperti sambal, bumbu naniura, dan lainnya. di Toba, batang kecombrang ini dikenal dengan rias.
Penggunaan asam cekala sudah dikenal sejak zaman nenek moyang suku Batak. Dalam literatur lisan dan penelitian antropologi, asam cekala digunakan tidak hanya sebagai bumbu, tetapi juga sebagai penawar racun alami dan obat tradisional. Masyarakat Batak percaya bahwa tanaman ini memiliki kekuatan “membersihkan” tubuh dari dalam.
Dalam buku Kuliner Tradisional Batak Toba dan Pemanfaatan Bumbu Lokal oleh D. Simbolon, disebutkan bahwa asam cekala adalah elemen penting dalam masakan-masakan sakral seperti arsik dan panggang yang biasa disajikan saat upacara adat dan pesta pernikahan.
Budaya dan Nilai Simbolik Asam Cekala
Dalam masyarakat Batak, setiap unsur makanan memiliki makna. Asam cekala melambangkan kesegaran, pembersihan, dan kesucian. Ketika digunakan dalam masakan arsik untuk pernikahan, misalnya, ia menjadi simbol bahwa rumah tangga yang baru dibentuk akan dibersihkan dari hal-hal buruk dan diberikan kesegaran hidup baru.
Beberapa hidangan khas Batak yang wajib menggunakan asam cekala, yakni:
- Arsik Ikan Mas, biasanya menggunakan batang muda cekala untuk memberikan rasa asam segar dan aroma kuat.
- Ikan Panggang Batak, digunakan sebagai bumbu marinasi tradisional dengan kombinasi andaliman, bawang, dan cekala.
- Sayur Rebus Tradisional, untuk menggantikan asam jawa dalam resep sayur tradisional Sumatera.
Asam cekala juga mulai digunakan secara kreatif dalam modernisasi kuliner, seperti sambal cekala dan infused water herbal.
Sayangnya, asam cekala belum banyak dikenal di luar komunitas Batak. Padahal, potensi rempah ini besar, baik untuk ekspor maupun pengembangan kuliner nusantara. Kurangnya dokumentasi dan pembudidayaan menjadi tantangan tersendiri. (*)