Batampos - Tamanu atau Calophyllum inophyllum merupakan pohon tropis yang tumbuh di sepanjang pesisir Afrika Timur hingga Asia Tenggara, Asia Pasifik, hingga Oseania.
Pohon dikenal dengan nama bentanur, nyamplung, kamani, atau beauty‑leaf tree, ia telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat kuno dan modern.
Baca Juga: Momen Kegembiraan Penuh Haru dan Tawa di Panggung Kelas 1 di Madrasah Tanjungpinang
Ada pun asal-usul asli pohon ini sulit ditentukan. Kemungkinan berasal dari Afrika Timur dan diperluas sebarannya oleh migrasi Austronesia jauh ke Pulau Pasifik dan Madagaskar pada zaman prasejarah. Nama Proto-Oceanic tamanu menjadi dasar penggunaan istilah di banyak budaya seperti Samoa, Tongan, dan Hawai’i.
Peran dalam Budaya Maritim dan Arsitektur Lokal
Kayu pohon Tamanu yang kokoh digunakan dalam pembuatan perahu tradisional seperti kano dan tiang kapal. Banyak komunitas di kepulauan Pasifik menanam pohon ini untuk perlindungan pantai dan dekorasi halaman, serta sebagai simbol status spiritual.
Selain itu, secara tradisional, hampir setiap bagian pohon digunakan untuk pengobatan, seperti :
- Minyak biji digunakan sebagai obat luka, salep anti-inflamasi, dan pelembap kulit di Polinesia, Fiji, Samoa, dan Mauritius.
- Daun dan kulit batang direbus sebagai obat untuk bisul, orkitis, infeksi mata, psoriasis, dan gangguan persendian seperti rematik.
- Getah dan ekstrak buah hijau digunakan sebagai racun ikan, penyakit saluran pencernaan, bahkan umpan tikus di masa lalu.
Di banyak komunitas Polinesia, pohon Tamanu dianggap suci. Ia ditanam di area keagamaan seperti marae dan dianggap tabu untuk digunakan oleh masyarakat biasa. Di sana, pohon ini khusus digunakan untuk membuat patung atau tiki atau benda adat.
Minyak Tamanu sebagai Sumber Energi Alternatif
Di Luzon, Filipina, dan pulau-pulau Pasifik, minyak digunakan sebagai bahan bakar lampu minyak malam sebelum era penerangan modern . Selama Perang Dunia II tak jarang dipakai menggantikan bahan bakar untuk menyalakan radio di daerah terpencil . Hari ini, minyak ini juga dieksplorasi sebagai sumber biodiesel yang ramah lingkungan dengan potensi bioenergi tinggi. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak