Batampos - Cengkeh atau Syzygium aromaticum, merupakan salah satu rempah asal Indonesia yang karena manfaat dan aromanya yang khas, membuat negeri ini dijajah oleh Belanda selama lebih kurang 350 tahun.
Cengkeh, tidak hanya sekadar rempah. Tanaman ini memiliki sejarah panjang dan peran penting dalam perdagangan dunia. Berasal dari Maluku. Membuat salah satu provinsi di Timur Indonesia itu dikenal sebagai Spice Islands atau Kepulauan Rempah.
Rempah ini menjadi komoditas yang sangat berharga di pasar internasional pada abad ke-15 hingga ke-17. Cengkeh bahkan diperdagangkan dengan nilai setara emas, kala itu.
Baca Juga: Nostalgia Lima Jajanan Masa Kecil yang Masih Eksis hingga Kini
Para pedagang Arab, India, hingga Tiongkok sudah lebih dulu mengenal dan membawa cengkeh keluar dari Maluku sebelum akhirnya bangsa Eropa datang.
Kedatangan bangsa Portugis pada awal abad ke-16 menjadi titik awal perebutan kendali perdagangan cengkeh. Namun, Belanda kemudian berhasil menguasai monopoli rempah melalui VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Monopoli ini membuat Maluku menjadi pusat perhatian dunia, bahkan memicu berbagai peperangan dan penjajahan panjang di nusantara. Demikian dikutip dari Ensiklopedia Britannica.
Cengkeh tidak hanya diperdagangkan sebagai bumbu dapur, tetapi juga digunakan dalam pengobatan tradisional, parfum, hingga bahan pengawet. Nilainya yang tinggi menjadikannya sebagai salah satu alasan utama bangsa Eropa berlayar jauh ke Nusantara.
Baca Juga: Ditempatkan ke Pulau, PPPK Pemkab Karimun Pilih Berhenti
Di masa kini, cengkeh tidak lagi menjadi komoditas langka, tetapi tetap memiliki nilai ekonomi tinggi. Indonesia masih menjadi salah satu produsen cengkeh terbesar di dunia, bersama Madagaskar, Tanzania, dan Sri Lanka. Selain sebagai bahan baku industri rokok kretek, cengkeh juga dimanfaatkan di bidang farmasi, kuliner, hingga kecantikan.
Sejarah panjang cengkeh membuktikan, rempah asal Maluku ini bukan hanya sekadar bumbu dapur, melainkan juga warisan budaya yang pernah mengubah jalannya sejarah perdagangan dunia yang tercatat dalam jalur sutra. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak