batampos - Satu kalimat hinaan bisa membuat terpikirkan selama bertahun - tahun, daripada pujian. Fenomena ini ternyata bukan sekadar perasaan biasa.
Otak manusia memiliki kecenderungan alami yang disebut negativity bias. Negativity bias yaitu kecenderungan untuk lebih memperhatikan dan mengingat pengalaman negatif dibanding yang positif.
"Kritik dan hinaan memicu respons emosional dengan perhatian yang lebih besar. Efeknya bisa lebih kuat dan bertahan lama," tulis studi yang dilakukan oleh peneliti di Frontiers in Communication tahun 2022, dikutip dari ScienceAlert, Senin (29/9).
Ketika seseorang mendengarkan hinaan, aktivitas otak di bagian tertentu (bagian depan) meningkat lebih dari ketika seseorang mendengar pujian. Aktivitas ini tidak cepat menurun meskipun hinaan didengar berulang.
Situasi dengan muatan emosional (misalnya marah, malu, dan takut) memperkuat proses encoding (pengolahan ingatan). Membuat konsolidasi memori sehingga memori tersebut menjadi kuat dan mudah diingat.
Ini adalah fenomena psikologis bernama fading affect bias. Fenomena ini menempatkan perasaan negatif terkait memori cenderung mereda seiring waktu lebih cepat dibanding perasaan positif.
Menariknya, meskipun emosi negatif mungkin memberikan impresi yang lebih kuat afeknya bisa memudar. Namun, isi dari hinaan bisa tetap tinggal dalam memori lebih lama.
"Pujian verbal dapat meningkatkan daya ingat prospektif, terutama dalam kondisi beban perhatian rendah. Namun, efeknya lebih terbatas dibanding sensitivitas otak terhadap input negatif," tulis penelitian dari PubMed, dikutip dari PubMed.
Hinaan biasanya lebih berbekas lama karena memicu emosi negatif. Dengan memberi ruang lebih besar pada hal - hal positif, kita bisa menjaga kesehatan mental dan membatasi paparan komentar negatif.(*)
Editor : Tunggul Manurung