Chahaya Simanjuntak• Selasa, 11 November 2025 | 19:45 WIB
ILUSTRASI penyakit parkinson
Batampos - Diagnosis penyakit Parkinson umumnya dilakukan berdasarkan pemeriksaan klinis, wawancara medis, dan terkadang penunjang seperti pemindaian otak untuk menyingkirkan kondisi lain. Tidak ada satu tes tunggal yang cukup untuk memastikan diagnosis.
Melansir dari Cleveland Clinic, penanganan penyakit Parkinson mencakup beberapa pendekatan:
- Obat-obatan: Obat yang meningkatkan dopamin atau meniru efek dopamin, seperti levodopa, agonis dopamin, MAO-B inhibitor. Tujuannya mengendalikan gejala.
- Terapi fisik dan gaya hidup: Latihan rutin seperti berjalan, berenang, tai chi, serta pengaturan pola makan sehat dapat membantu memperlambat penurunan fungsi dan meningkatkan kualitas hidup.
- Intervensi bedah: Untuk beberapa kasus, prosedur seperti stimulasi otak dalam (deep brain stimulation) dapat dipertimbangkan jika obat-obatan tidak cukup efektif.
- Perawatan non-motorik: Terapi psikologis, dukungan sosial, dan modifikasi lingkungan hidup penting untuk gejala seperti depresi, gangguan tidur, atau masalah otonom.
Mengingat sifatnya progresif dan tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita.
Di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari UNS, terdapat 200 ribu hingga 400 ribu penderita parkinson dengan angka kematian lebih dari 1.100 orang per tahun. Penyakit ini dapat mempersulit hidup penderitanya, yakni enam kali lebih cepat menderita dementia dibanding penderita alzheimer.
Semakin awal intervensi dilakukan, semakin besar kesempatan untuk mempertahankan mobilitas, aktivitas sehari-hari, dan kesejahteraan secara umum.
Penyakit Parkinson adalah tantangan kesehatan yang kompleks dan terus berkembang. Dengan memahami gejala–termasuk gejala yang sering luput di mata–mengetahui faktor risiko, serta menjalani penanganan yang tepat, penderita dan keluarga dapat menghadapi perjalanan penyakit ini dengan kesiapan dan dukungan yang lebih baik. (*)