Batampos - JPMorgan kembali memicu perbincangan soal rencana pemotongan suku bunga.
Selama berminggu-minggu, bank tersebut berpendapat, Federal Reserve kemungkinan akan menunggu hingga Januari 2026 untuk melonggarkan kebijakan. Namun kini JPMorgan memproyeksikan pemotongan sebesar 0,25 poin persentase yang akan diterapkan pada 10 Desember mendatang dan dapat mempengaruhi proyeksi ekonomi 2026.
Ini sebuah perubahan besar yang diperkirakan akan menyuntikkan optimisme baru ke pasar saham global.
Apalagi, perubahan ini juga muncul saat para pejabat The Fed sendiri tampak semakin siap untuk bergerak lebih cepat. Presiden The Fed New York, John Williams secara efektif mendukung pemotongan di Desember ini, karena didorong oleh pasar tenaga kerja yang mulai mendingin dan tren perekrutan yang melemah.
Sementara itu pasar bergerak naik-turun. Peluang pemotongan Desember sempat berada di atas 90 persen, turun ke 30 persen , lalu kembali mendekati 85 persen. Langkah JPMorgan kini semakin menguatkan dugaan bahwa The Fed mungkin benar-benar siap menarik pelatuknya terkait suku bunga ini.
Ekspektasi Pemotongan Suku Bunga Jelang Desember Berubah-ubah
Ekspektasi pasar terhadap pemotongan suku bunga di Desember benar-benar seperti naik roller coaster. Akhir Oktober, data CME FedWatch menunjukkan, kontrak berjangka yang terkait dengan suku bunga Fed memproyeksikan peluang hampir 100 persen untuk pemotongan 0,25 poin persentase pada pertemuan Desember.
Namun sentimen itu berubah pada awal November. Penyebab utamanya adalah penutupan pemerintahan AS, yang akhirnya menunda rilis laporan pekerjaan September. Para pejabat The Fed kemudian memberi sinyal bahwa mereka tidak terburu-buru untuk melonggarkan kebijakan.
Akibatnya, probabilitas pemotongan Desember turun menjadi hanya 30 persen berdasarkan kontrak berjangka suku bunga Fed. Namun kini bandulnya kembali berayun.
Para trader kembali memperkirakan peluang pemotongan 0,25 poin persentase di Desember berada di kisaran lebih dari 80 persen, bahkan beberapa estimasi mencapai 85 persen, berdasarkan data CME FedWatch yang dikutip Reuters, Minggu (30/11/2025).
JPMorgan mendukung pemotongan Desember, dan Goldman Sachs juga memberi tahu kliennya bahwa mereka memperkirakan pemotongan di bulan yang sama, terutama karena tidak ada rilis data besar sebelum pertemuan pembuat kebijakan pada 9–10 Desember.
Mengapa Pemotongan Desember Penting bagi Pasar Saham?
Pemotongan suku bunga biasanya sangat berdampak pada pasar saham. Suku bunga yang lebih rendah berarti biaya pinjaman turun, yang pada gilirannya mendukung valuasi saham yang lebih sehat. Dinamika ini mendorong investor untuk menarik dana dari obligasi jangka pendek dan kembali masuk ke pasar saham.
Selain itu, jika The Fed memutuskan memotong suku bunga di Desember, mereka akan melakukannya pada bulan yang secara historis memiliki momentum musiman yang kuat.
Menurut data Stock Trader’s Almanac hingga 2023, sejak 1930, S&P 500 mengakhiri Desember dengan kenaikan hampir 73 persen dari waktu yang ada dengan rata-rata kenaikan 1,4 persen. Indeks Dow Jones juga meningkat hampir 72 persen dari waktu yang ada dengan rata-rata kenaikan bulanan terbaik sekitar 1,5 persen pada Desember.
Jendela reli akhir tahun yang lebih pendek, yakni Santa Claus rally (lima hari perdagangan terakhir tahun ini dan dua hari pertama Januari), bahkan lebih kuat.
Menurut Investopedia, sejak 1950, S&P 500 mencatat kenaikan rata-rata sekitar 1,3 persen pada periode tersebut, dan berakhir positif 79 persen dari waktu yang ada.
Beberapa reli akhir tahun terkuat terjadi bersamaan dengan kebijakan moneter yang lebih longgar, misalnya:
Baca Juga: Youthpreneurship Bootcamp & Festival Indonesia–Malaysia Dorong Generasi Muda Jadi Pengusaha Muda Kreatif
• 1998: Setelah pemotongan darurat selama krisis LTCM, S&P 500 melonjak 5,6% pada Desember.
• 2008: Dengan suku bunga dipangkas mendekati nol, indeks naik 1,6% di bulan itu, plus 7,4% selama periode Santa Claus rally.
• 2019: Setelah tiga pemotongan suku bunga, S&P 500 naik 2,8% pada Desember dan menutup tahun dengan penguatan lebih dari 31%.
Sementara itu, pasar tenaga kerja AS membuat The Fed dan para pembuat kebijakan waspada karena dari satu sisi terlihat kuat, tetapi dari sisi lain tampak goyah, dan ini sangat berpengaruh secara global.
Tahun ini, The Street mencatat, AS mengalami:
• Pengangguran naik: Tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,4% pada September, tertinggi dalam empat tahun, dengan sekitar 7,6 juta orang menganggur.
• Perekrutan belum berhenti: Payroll nonpertanian menambah 119.000 pekerjaan pada September setelah penurunan kecil pada Agustus, menandakan bahwa perusahaan belum benar-benar mengerem.
• Permintaan melemah: Lowongan pekerjaan turun menjadi sekitar 7,2 juta, turun signifikan dari 7,7 juta pada Mei.
Kombinasi unik dari perekrutan yang melambat namun tetap positif, pengangguran yang meningkat, dan permintaan tenaga kerja yang melemah membuat para pembuat kebijakan cemas. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak