batampos – Ketegangan di kawasan Selat Hormuz mulai membayangi kinerja industri di Batam. Lonjakan harga energi dan biaya logistik global menjadi ancaman utama bagi daya saing industri daerah tersebut.
Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Batam, Suyono Saputra, mengatakan dampak konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat, berpotensi menekan ekonomi Batam dalam jangka pendek.
“Batam akan terdampak dari shock energi dan kenaikan biaya logistik global. Ini bisa terjadi jika ketegangan di Selat Hormuz berkepanjangan hingga mendorong harga minyak menembus 150 dolar AS per barel,” ujarnya, Jumat (27/3).
Kenaikan tersebut berdampak langsung pada biaya operasional industri. Tarif listrik, BBM, serta ongkos transportasi berpotensi meningkat, terutama bagi sektor manufaktur yang bergantung pada efisiensi biaya produksi.
Selain itu, biaya logistik internasional juga naik akibat penyesuaian fuel surcharge dan premi risiko perang (war risk premium). Kondisi ini berisiko menggerus margin industri sekaligus mengganggu rantai pasok global.
“Jika jalur pelayaran terganggu, traffic kapal bisa menurun dan lead time impor bahan baku menjadi lebih lama,” katanya.
Keterlambatan pasokan berpotensi memicu kelangkaan bahan baku, terutama pada sektor elektronik dan galangan kapal yang bergantung pada impor.
Indikasi awal dampak tersebut mulai terlihat. Operator feri rute Singapura–Batam telah memberlakukan tambahan biaya sebesar 6 dolar AS per penumpang.
Meski tidak berada di jalur langsung Selat Hormuz, Batam tetap terdampak secara tidak langsung. Pasalnya, sekitar 20–25 persen perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut.
“Jika terjadi gangguan, biaya bahan bakar kapal meningkat, premi asuransi naik, dan rute pelayaran dialihkan,” jelasnya.
Kondisi ini pada akhirnya berpotensi menaikkan ongkos ekspor-impor dan menekan daya saing produk industri Batam di pasar global. (*)
Editor : M Tahang