Tambahan 24 Rafale Masih Dikaji, Kemhan Pastikan Belum Ada Kontrak Baru

jpg • Dipublikasikan Sabtu, 18 April 2026 | 08:31 WIB
Penampakan pesawat tempur Dassault Rafale milik Indonesia yang dibeli oleh Indonesia dari Prancis. (TNI AU)
Penampakan pesawat tempur Dassault Rafale milik Indonesia yang dibeli oleh Indonesia dari Prancis. (TNI AU)

 

batampos – Kementerian Pertahanan (Kemhan) memastikan rencana penambahan 24 unit pesawat tempur Dassault Rafale dari Prancis masih dalam tahap kajian dan belum memasuki tahap kontrak.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan RI, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menegaskan bahwa pemerintah masih menelaah kebutuhan strategis sebelum mengambil keputusan pembelian.

“Opsi penambahan masih dalam tahap kajian oleh pemerintah,” ujar Rico, Jumat (17/4).

Menurutnya, proses kajian tersebut penting untuk memastikan rencana pengadaan alutsista benar-benar selaras dengan kebutuhan pertahanan nasional, baik dari sisi operasional maupun anggaran.

Rico juga menegaskan, hingga saat ini belum ada kesepakatan atau kontrak baru antara Pemerintah Indonesia dan Prancis terkait tambahan pesawat tempur tersebut.

Isu penambahan 24 Rafale mencuat setelah pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, Indonesia telah lebih dulu mengamankan kontrak pembelian 42 unit Rafale. Pengadaan dilakukan secara bertahap, dengan tiga unit pertama telah tiba di Indonesia pada awal 2026.

Sisa 39 unit lainnya dijadwalkan akan menyusul dalam beberapa tahap sesuai dengan kesepakatan yang telah ditandatangani sebelumnya.

Kemhan menegaskan, setiap rencana pengadaan alutsista akan melalui pertimbangan matang, mengingat kebutuhan pertahanan harus sejalan dengan kemampuan fiskal serta prioritas pembangunan nasional.

Langkah ini sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperkuat pertahanan udara Indonesia secara bertahap dan terukur. (*)

Editor : Jamil Qasim
Sumber : Jawa Pos
24 Rafale Kemhan