batampos – Gunung Semeru di Jawa Timur kembali mengalami erupsi pada Senin pagi dengan tinggi kolom letusan mencapai 800 meter di atas puncak gunung.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, mengatakan erupsi terjadi pada pukul 08.15 WIB.
“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 08.15 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 800 meter di atas puncak atau 4.476 mdpl,” ujar Sigit dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.
Menurutnya, kolom abu vulkanik terpantau berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke barat dan barat laut.
Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 21 mm dan durasi sekitar 122 detik.
Baca Juga: Komitmen Mandiri Bintan Marathon Untuk Keberlanjutan Lingkungan
Sebelumnya, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu juga mengalami erupsi pada pukul 00.18 WIB dan 05.58 WIB. Namun, visual letusan pada dua erupsi sebelumnya tidak teramati.
Sigit menjelaskan aktivitas vulkanik Gunung Semeru saat ini masih berada pada Status Level III atau Siaga.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi kepada masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Selain itu, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga radius 17 kilometer dari puncak.
“Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar,” katanya.
Baca Juga: Ketua Dewan Pers: Pers Tetap Tak Tergantikan di Tengah Disrupsi Informasi Digital
Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas guguran, aliran lava, serta lahar hujan di sejumlah aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru.
Beberapa kawasan yang perlu diwaspadai antara lain sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk anak-anak sungai yang terhubung dengan Besuk Kobokan. (*)
Editor : Putut Ariyotejo