batampos – Pemerintah Kota Batu, Jawa Timur, tengah merancang konsep pertanian cerdas terintegrasi atau smart integrated farming yang salah satu fokus utamanya adalah memutus mata rantai tengkulak dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu, Hendry Suseno, mengatakan program tersebut akan dibangun secara menyeluruh mulai dari proses budidaya hingga pemasaran hasil panen. Dalam konsep yang sedang disusun itu, pemerintah akan menggandeng lembaga profesional yang bertugas menyerap sekaligus memasarkan produk pertanian langsung ke pasar modern.
“Smart integrated farming ini berkesinambungan mulai dari awal sampai akhir. Pada sisi pemasaran nanti ada lembaga profesional yang sudah memiliki jaringan ke pasar modern. Ini menjadi upaya memberantas tengkulak,” kata Hendry, Senin.
Menurutnya, praktik tengkulak selama ini kerap merugikan petani karena membeli hasil panen dengan harga rendah, namun menjual kembali ke pasar dengan harga yang jauh lebih tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan petani tidak memperoleh keuntungan yang optimal dari hasil usahanya.
Baca Juga: Bosan dengan Tempat Makan Viral? 5 Hidden Gem Kuliner Batam yang Layak Dicoba
Karena itu, Pemkot Batu menempatkan peningkatan kesejahteraan petani sebagai tujuan utama dalam implementasi konsep pertanian cerdas terintegrasi tersebut.
Hendry menjelaskan, lembaga yang nantinya berperan sebagai penyerap hasil panen akan melalui proses seleksi ketat. Langkah itu dilakukan untuk memastikan pemasaran produk pertanian berjalan profesional dan sesuai kebutuhan pasar.
“Sehingga produk pertanian yang dipasarkan oleh lembaga tersebut menyesuaikan dengan spesifikasi dan permintaan dari pasar modern,” ujarnya.
Produksi Pertanian Batu Masih Tinggi
Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu menunjukkan sektor pertanian daerah tersebut masih memiliki produktivitas yang tinggi. Pada triwulan pertama 2026, komoditas petsai atau sawi menjadi hasil panen terbesar dengan produksi mencapai 28.790,73 kuintal.
Di posisi berikutnya terdapat wortel sebanyak 22.705,39 kuintal dan apel yang mencapai 20.312,86 kuintal. Sementara produksi jeruk siem bahkan menembus 89.039,49 kuintal.
Selain itu, petani Kota Batu juga menghasilkan kentang sebanyak 21.427,56 kuintal, bawang daun 16.015,17 kuintal, kembang kol 15.554,52 kuintal, kubis 11.569,95 kuintal, serta bawang merah sebanyak 6.391,30 kuintal.
Pada sektor tanaman hias, produksi bunga mawar mencapai 10.065,50 kuintal, bunga krisan 2.348,75 kuintal, dan anggrek pot sebanyak 155,50 kuintal.
Jadi Proyek Percontohan
Pemkot Batu telah memproyeksikan lahan seluas 2,5 hektare di Kelurahan Giripurno, Kecamatan Batu, sebagai lokasi pelaksanaan awal program smart integrated farming.
Program tersebut dirancang sebagai proyek percontohan (pilot project) yang nantinya dapat direplikasi oleh kelompok tani lain di berbagai wilayah Kota Batu.
Menurut Hendry, pemanfaatan teknologi dalam sektor pertanian diyakini mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan nilai tambah terhadap hasil pertanian yang dihasilkan petani.
Baca juga: 233 PMI Asal Batam Bekerja di 9 Negara Selama Januari-Mei 2026, Malaysia Masih Dominan
“Bertani dengan menggunakan teknologi mampu menghadirkan nilai tambah kepada produk pertanian. Karena program ini merupakan bagian dari visi dan misi Wali Kota, kami harus berkolaborasi dengan perangkat daerah lainnya agar implementasinya berjalan optimal,” katanya.
Melalui konsep smart integrated farming, Pemkot Batu berharap tercipta sistem pertanian modern yang lebih efisien, berkelanjutan, serta memberikan keuntungan yang lebih besar bagi petani dengan memangkas ketergantungan terhadap perantara atau tengkulak. (*)
Editor : Putut Ariyo