batampos – Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan pemerintah tengah membangun 100 gudang modern baru untuk Perum Bulog guna memperkuat sistem penyimpanan cadangan pangan nasional, khususnya beras.
Dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Amran mengatakan proyek tersebut telah mendapatkan persetujuan pemerintah dengan total anggaran sekitar Rp5 triliun.
“Pembangunan 100 gudang ini sudah disetujui pemerintah dengan nilai anggaran sekitar Rp5 triliun,” ujar Amran, Rabu (10/6).
Menurutnya, gudang-gudang modern tersebut dirancang menggunakan sistem penyimpanan yang lebih baik sehingga mampu menjaga kualitas beras dalam jangka waktu lebih lama. Jika saat ini kualitas beras mulai menurun setelah disimpan dalam periode tertentu, fasilitas baru itu memungkinkan beras bertahan minimal dua tahun, bahkan hingga tiga tahun.
Baca Juga: Hujan Deras dan Angin Kencang, Polresta Barelang Intensifkan Patroli di Titik Rawan Banjir Batam
“Penyimpanannya jauh lebih baik dan modern. Beras bisa bertahan dua tahun minimal, bahkan sampai tiga tahun,” katanya.
Kehadiran gudang baru tersebut dinilai penting mengingat stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini mencapai sekitar 3,5 juta ton. Dengan kapasitas penyimpanan yang lebih memadai, pemerintah berharap kualitas stok tetap terjaga sekaligus mendukung stabilitas pasokan dan harga beras nasional.
Pernyataan Amran sekaligus merespons perhatian Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, yang sebelumnya menyoroti adanya laporan penurunan mutu sebagian stok beras di gudang Bulog. Titiek bahkan mengusulkan agar beras yang telah tersimpan lebih dari satu tahun dapat dialihkan menjadi pakan guna menjaga kualitas cadangan pangan.
Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog, Agmad Rizal Ramdhani, menegaskan pembangunan 100 gudang baru merupakan langkah strategis dalam memperkuat sistem logistik pangan nasional.
Program tersebut akan tersebar di 92 kabupaten dengan total anggaran sekitar Rp5 triliun, terdiri dari Rp4,4 triliun untuk pembangunan infrastruktur utama dan Rp560 miliar untuk mekanisasi, otomatisasi, serta pengembangan sistem teknologi informasi.
Baca Juga: Proyek Drainase dan Kolam Retensi Jadi Penyebab Genangan di Kepri Mall-Orchard Park
Selain 94 unit gudang penyimpanan, proyek ini juga mencakup pembangunan enam silo gabah, delapan silo jagung, 17 unit pengering beras (dryer), 17 Rice Milling Unit (RMU), delapan pengering jagung, serta sembilan sentra pengolahan dan fasilitas pengemasan beras.
Bulog memastikan setiap lokasi pembangunan akan melalui kajian teknis, mulai dari uji kondisi tanah, analisis kemiringan lahan, hingga akses transportasi guna mendukung distribusi logistik secara optimal.
Pembangunan akan diprioritaskan di sejumlah sentra produksi pangan nasional seperti Lampung, Pulau Jawa, dan Sulawesi Selatan. Sementara di wilayah kepulauan seperti Natuna, Rote, dan Tidore, fokus pembangunan diarahkan pada fasilitas penyimpanan guna menjaga ketersediaan pasokan pangan, terutama saat cuaca ekstrem.
Melalui pembangunan infrastruktur pascapanen ini, pemerintah berharap sistem logistik pangan nasional menjadi lebih kuat, efisien, dan mampu menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat dalam jangka panjang. (*)
Editor : Jamil Qasim