batampos – Kinerja sektor pangan Indonesia kembali mendapat pengakuan dari Badan Pangan Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO). Dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026, FAO mencatat peningkatan produksi dan stok beras Indonesia yang turut berkontribusi menjaga cadangan beras dunia tetap kuat.
FAO memperkirakan stok beras global pada akhir periode 2026/2027 mencapai 213,8 juta ton, menjadi salah satu level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang berperan penting dalam pencapaian tersebut berkat peningkatan produksi dan cadangan beras nasional.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, memastikan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog saat ini telah melampaui 5 juta ton.
Baca Juga: Usai Ditangkap, Roy Suryo dan dr Tifa Dirawat di RS Polri, Ini Alasannya
"Stok kita saat ini sekitar 5,2 juta ton dan dalam kondisi aman. Yang terpenting, sejak 2025 hingga sekarang tidak ada izin impor beras medium yang diterbitkan pemerintah," ujar Amran di Istana Negara, Jakarta, Kamis (18/6).
Amran bahkan menantang pihak-pihak yang masih meragukan ketersediaan stok beras nasional untuk melihat langsung kondisi gudang Bulog di berbagai daerah.
"Kapasitas gudang Bulog hanya sekitar 3 juta ton, sementara stok kita sudah mencapai 5,2 juta ton. Artinya Bulog harus menyewa gudang tambahan sekitar 2,2 juta ton. Jadi yang belum yakin, silakan datang dan cek langsung gudang Bulog di seluruh Indonesia," tegasnya.
Baca Juga: DPR Janji Tindak Lanjuti Aspirasi Mahasiswa, Dasco: Status 16 Mahasiswa Trisakti Akan Dicabut
Dalam laporannya, FAO memproyeksikan stok beras Indonesia dapat mencapai 7,5 juta ton pada periode 2025/2026 dan meningkat menjadi 7,8 juta ton pada periode 2026/2027. Dengan tren tersebut, peluang Indonesia menjadi eksportir beras juga semakin terbuka.
Selain stok yang melimpah, Amran menegaskan beras tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi nasional dalam dua tahun terakhir.
Data menunjukkan inflasi beras sempat mencapai 3,59 persen pada Mei 2024. Namun setelah itu terus melandai. Pada Juli 2025 inflasi beras tercatat 1,35 persen, sementara pada Mei 2026 hanya berada di level 0,38 persen.
Menariknya, stabilitas harga beras tidak membuat petani merugi. FAO menilai harga produsen yang stabil di Indonesia berhasil mendorong petani tetap memilih menanam padi dibandingkan komoditas lain.
Kondisi tersebut berdampak positif terhadap peningkatan produksi nasional. Di saat sejumlah negara seperti Kamboja, India, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, dan Thailand diperkirakan mengalami penurunan produksi, Indonesia justru menunjukkan tren sebaliknya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga yang Diterima Petani (It) untuk komoditas padi mencapai 147,97 pada Mei 2026, tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Sementara Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor tanaman pangan berada di level 113,79, menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini.
FAO juga kembali menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan peringkat keempat dunia setelah India, Tiongkok, dan Bangladesh.
Dari empat negara produsen utama tersebut, hanya Indonesia dan Tiongkok yang diproyeksikan mengalami pertumbuhan produksi positif. Bahkan, peningkatan produksi Indonesia menjadi yang paling signifikan dengan tambahan lebih dari 4 juta ton dibanding periode sebelumnya.
Angka tersebut jauh melampaui kenaikan produksi India yang diperkirakan hanya bertambah 1,7 juta ton, Brasil 1,5 juta ton, dan Bangladesh 1,1 juta ton.
Capaian tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama pangan dunia, sekaligus menunjukkan keberhasilan menjaga keseimbangan antara produksi, stok nasional, dan kesejahteraan petani. (*)
Editor : Jamil Qasim