Batampos - Kementerian Pertanian mempercepat implementasi sistem Pertanian Modern PM-AAS sebagai strategi meningkatkan kesejahteraan petani. Berdasarkan hasil analisis usaha tani, metode budidaya modern tersebut mampu meningkatkan pendapatan petani hingga lebih dari tiga kali lipat dibandingkan sistem budidaya konvensional.
"Kita kejar kesejahteraan petani. Pertanian modern harus jadikan petani sejahtera," ujar Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat memberikan arahan kepada jajaran Kementerian Pertanian, kepala dinas pertanian, penyuluh pertanian lapangan (PPL), dan pemerintah daerah dari seluruh Indonesia di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Menurut Amran, percepatan swasembada pangan tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan petani memperoleh keuntungan yang lebih besar.
“Yang kita kejar adalah kesejahteraan petani. Pertanian modern harus menjadikan petani lebih sejahtera,” ujarnya.
Baca Juga: WNA Pelaku Scamming Jalani Proses Hukum di Tiongkok dan Dicekal Seumur Hidup
Berdasarkan analisis usaha tani, sistem budidaya konvensional membutuhkan biaya sekitar Rp13 juta per hektare dengan produksi rata-rata 5,2 ton gabah. Dari hasil tersebut, petani memperoleh keuntungan sekitar Rp20,79 juta per musim tanam atau setara Rp5,19 juta per bulan.
Sementara melalui metode PM-AAS, biaya produksi meningkat menjadi sekitar Rp15,17 juta per hektare. Namun produksi melonjak hingga 12,4 ton per hektare sehingga keuntungan petani mencapai Rp65,43 juta per musim tanam atau sekitar Rp16,36 juta per bulan.
Dengan demikian, rasio keuntungan (Benefit Cost Ratio/BCR) meningkat dari 1,60 menjadi 4,31.
“Biaya hanya naik sekitar Rp2 juta, tetapi pendapatan bersih petani meningkat dari sekitar Rp5 juta menjadi Rp16,3 juta per bulan. Naik tiga kali lipat. Ini yang kita kejar,” kata Amran.
Baca Juga: Ada Bayi Penderita Bayi Hidrosefalus Kabil, Polresta Barelang Beri Bantuan Kesehatan
Selain meningkatkan pendapatan, metode PM-AAS juga dinilai mampu menekan biaya tenaga kerja melalui penerapan sistem direct seeding atau tanam langsung tanpa proses persemaian dan pencabutan bibit.
Amran optimistis peningkatan kesejahteraan akan mendorong semakin banyak petani menanam sehingga mendukung tercapainya swasembada pangan nasional.
“Kalau petani sejahtera, mereka pasti berlomba-lomba menanam karena usahanya menguntungkan,” ujarnya. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak