Abu Anak Krakatau Menyebar hingga Jakarta dan Bengkulu

Fiska Juanda • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 16:17 WIB
Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat rangkaian letusan yang terjadi sejak Jumat (4/9) malam tersebut terindikasi sebagai pancaran lava (lava fountain) dengan durasi gempa letusan mencapai 21.600 detik dan amplitudo maksimum 70 milimeter yang merupakan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/agr
Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat rangkaian letusan yang terjadi sejak Jumat (4/9) malam tersebut terindikasi sebagai pancaran lava (lava fountain) dengan durasi gempa letusan mencapai 21.600 detik dan amplitudo maksimum 70 milimeter yang merupakan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/agr

 batampos – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan pemantauan selama 24 jam terhadap erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Hingga Minggu (6/9), BMKG telah menerbitkan 50 peringatan cuaca penerbangan atau Significant Meteorological Information (SIGMET) menyusul sebaran abu vulkanik yang berdampak pada sejumlah wilayah dan penerbangan.

Berdasarkan analisis citra satelit pada pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta mulai menerbitkan SIGMET sesaat setelah erupsi awal terjadi pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB.

“Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri, Minggu (6/9).

Ia menjelaskan, abu vulkanik pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan sekitarnya.

Sementara, sebaran abu hingga ketinggian 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, meliputi Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.

Sebaran abu tersebut juga berdampak pada operasional penerbangan. Berdasarkan Notice to Airmen (NOTAM) yang diterbitkan Perum LPPNPI atau AirNav Indonesia pada 6 September, sejumlah bandara sempat menghentikan operasional sementara.

Bandara yang terdampak antara lain Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, dan Budiarto. Penutupan dilakukan pada waktu berbeda sesuai perkembangan sebaran abu vulkanik.

BMKG menyebut keputusan tersebut merupakan hasil koordinasi sejumlah pemangku kepentingan penerbangan, termasuk otoritas bandara, AirNav Indonesia, BMKG, pengelola bandara, dan TNI. Keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan.

Selain pemantauan atmosfer dan penerbangan, BMKG juga memantau kondisi laut di sekitar Selat Sunda.

Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan pemantauan 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga pukul 07.00 WIB tidak menunjukkan adanya anomali muka air laut.

Analisis High-Frequency Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung juga menunjukkan probabilitas tsunami berada pada tingkat rendah, di bawah 40 persen. Sementara tinggi gelombang laut berada di kisaran satu meter.

“BMKG merekam adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat adanya gangguan geomagnetik yang selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik dalam 12 jam terakhir. Namun, intensitas gangguan tersebut tidak sebesar letusan awal,” ujarnya.

BMKG terus mengoptimalkan pemantauan terpadu menggunakan berbagai instrumen selama 24 jam dan berkoordinasi dengan PVMBG-Badan Geologi untuk memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat, khususnya yang beraktivitas dan tinggal di sepanjang pesisir Selat Sunda, diminta tetap waspada tanpa panik serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

BMKG mengimbau masyarakat untuk mengikuti perkembangan informasi melalui saluran resmi BMKG, PVMBG-Badan Geologi, dan instansi pemerintah terkait. (*)

Editor : Fiska Juanda
Sumber : BMKG
Anak Krakatau Anak Gunung Krakatau Penyebaran Abu Vulkanik Krakatau Erupsi Gunung Krakatau