batampos – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai menunjukkan kinerja yang baik saat menjalankan tugas pemerintahan ketika Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke luar negeri.
Pengamat komunikasi Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, menilai Gibran menunjukkan respons terhadap sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk kasus keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah.
Menurut Ari, kunjungan Gibran ke Sumatera Utara untuk menjenguk siswa yang mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG menjadi penegasan bahwa negara tetap hadir meski presiden sedang berada di luar negeri.
"Demikian pula halnya dengan karhutla yang melanda di banyak daerah di Kalimantan, Sumatera hingga Jawa. Pemerintah melalui representasi Gibran menunjukkan pemerintah terus hadir di saat rakyatnya tengah tertimpa musibah," ujar Ari saat dihubungi, Selasa (15/9).
Direktur Eksekutif Nusakom Pratama itu mengatakan langkah Gibran menunjukkan komitmen pemerintah dalam membantu masyarakat yang sedang menghadapi persoalan.
"Syukurlah kedatangan Gibran yang berani meminta maaf kepada korban dan keluarga korban keracunan omprengan MBG menjadi sinyal positif keberanian di tengah pimpinan Badan Gizi Nasional sendiri masih berkutat pada saling salah menyalahkan pengelola dapur SPPG," imbuhnya.
Gibran juga menyetujui permintaan agar siswa yang mengalami keracunan MBG dirujuk ke Jakarta.
Sementara itu, dalam kunjungannya ke Kalimantan untuk memberikan dukungan terhadap upaya pemadaman karhutla, Gibran dinilai turut menyampaikan pesan agar penanganan bencana tidak mengabaikan satwa yang terdampak.
“Sementara dari kedatangannya ke Kalimantan untuk memberi dukungan bagi upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan agar lebih terkoordinasi, Gibran menutupkan sebuah pesan politik yang jelas artikulasinya yakni, upaya pemadaman kebakaran hendaknya tidak melupakan penanganan bagi satwa-satwa yang terdampak,” tambahnya.
Ari menilai karhutla yang melanda sejumlah wilayah telah memberikan dampak besar terhadap kerusakan ekosistem. Karena itu, menurut dia, kehadiran pemerintah pusat secara langsung di lokasi diperlukan untuk membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Di tengah polemik penanganan kebakaran hutan dan lahan serta kontroversi pelaksanaan program MBG, setidaknya Gibran memberi sinyal bahwa dirinya bukan sosok yang selama ini terkonstruksikan dalam pandangan publik sebagai orang yang tidak bisa bekerja, tetapi adalah figur yang bisa bekerja, bahkan mengambil celah yang selama ini luput dari perhatian Presiden dan para pembantunya,” pungkasnya. (*)
Editor : Cipi Ckandina