Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Masuk Perairan RI, Dikawal 2 KRI dan 2 Pesawat TNI AL

jpg • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 19:31 WIB
Kapal Induk Giuseppe Garibaldi memasuki perairan Indonesia untuk berlayar ke Jakarta pada Kamis (17/9). (TNI AL)
Kapal Induk Giuseppe Garibaldi memasuki perairan Indonesia untuk berlayar ke Jakarta pada Kamis (17/9). (TNI AL)

batampos — Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi akhirnya memasuki wilayah perairan Indonesia, Kamis (17/9/2026). Kapal perang milik Italia tersebut dijadwalkan tiba di Jakarta dan bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (18/9).

Kedatangan kapal induk tersebut mendapat pengawalan dari TNI Angkatan Laut (TNI AL). Sebanyak dua kapal perang dan dua pesawat udara dikerahkan untuk mengawal pelayaran Giuseppe Garibaldi saat memasuki wilayah Indonesia.

Dua kapal perang yang terlibat yakni KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321. Sementara unsur udara terdiri dari pesawat CN-235 dan NC-212.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul mengatakan, Giuseppe Garibaldi dikawal dua fregat kelas Brawijaya saat memasuki Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I.

“Kedatangan kapal induk perdana ini dikawal langsung oleh dua fregat kelas Brawijaya, yaitu KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321 saat memasuki perairan ALKI I, Kamis (17/9),” kata Tunggul.

Menurut dia, kedatangan ITS Giuseppe Garibaldi ke Indonesia menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan TNI AL dalam menjalankan Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

Salah satu pemanfaatannya adalah mendukung operasi penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan.

“Kedatangan ITS Giuseppe Garibaldi ke Tanah Air menjadi bagian penting dalam perjalanan penguatan kemampuan TNI AL dalam memperkuat Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya dalam penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan yang menjadi prioritas,” ujarnya.

Disiapkan untuk Pangkalan Helikopter dan Drone

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rencana pemanfaatan kapal induk tersebut untuk mendukung operasi kemanusiaan dan penanggulangan bencana.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan kapal yang nantinya direncanakan diberi nama KRI Gadjah Mada atau KRI Sriwijaya tersebut dapat digunakan sebagai pangkalan bergerak bagi helikopter dan drone.

Salah satu penggunaannya adalah mendukung penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Untuk karhutla, helikopter yang bisa dibawa lebih dari 10. Itu nanti rencananya tidak hanya helikopter Angkatan Laut saja. Jadi, helikopter Angkatan Darat dan helikopter Angkatan Udara juga bisa menggunakan kapal induk ini sebagai platform pangkalan yang berjalan, yang bergerak di atas laut,” jelas Ali.

Ali mengatakan, sejumlah pilot helikopter TNI Angkatan Darat (AD) dan TNI Angkatan Udara (AU) telah melakukan latihan serta simulasi pendaratan di atas geladak kapal perang TNI AL.

Latihan tersebut dilakukan menggunakan kapal Landing Platform Dock (LPD) yang ukurannya lebih kecil dibandingkan kapal induk.

“Latihannya di kapal LPD yang lebih kecil dari kapal induk. Kalau itu sudah bisa, pasti di kapal induk akan lebih mudah,” katanya.

Dukung Operasi Pemadaman Karhutla

Menurut Ali, penggunaan kapal induk sebagai pangkalan bergerak dapat memberikan dukungan terhadap operasi penanggulangan karhutla.

Helikopter dapat mengambil air untuk keperluan water bombing sekaligus melakukan pengisian bahan bakar dari kapal yang sama.

“Dari satu titik, helikopter bisa kembali lagi ke kapal induk. Di situ sudah tersedia bahan bakar avtur yang diperlukan oleh heli,” ujarnya.

Selain mendukung operasi udara, kapal tersebut juga dapat menjadi titik distribusi logistik ketika terjadi bencana.

Dengan demikian, helikopter dapat kembali ke kapal induk setelah menjalankan misi untuk mengisi bahan bakar maupun mengambil kebutuhan logistik sebelum kembali melanjutkan operasi. (*)

Editor : Jamil Qasim
Giuseppe Garibaldi Kapal induk ITS