Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Mantan Bupati Natuna Daeng Rusnadi Tutup Usia, Berjasa Bangun Natuna di Ujung Perbatasan Negeri

Ihsan Imaduddin • Jumat, 1 Mei 2026 | 19:03 WIB
MANTAN bupati Natuna, Daeng Rusnadi (kanan) semasa hidup. F Arifin untuk Batam Pos
MANTAN bupati Natuna, Daeng Rusnadi (kanan) semasa hidup. F. Dokumentasi Yuli Seperi untuk Batam Pos

Batampos - Hujan turun tanpa jeda sejak subuh di Natuna dan Anambas, Jumat (1/5/2026). Rintiknya pelan namun terasa berat. Seolah ikut membawa kabar duka yang menyelimuti dua wilayah perbatasan di ujung utara negeri.

Di tengah langit yang muram, masyarakat kehilangan satu nama yang begitu lekat dalam perjalanan pembangunan daerah perbatasan itu. Daeng Rusnadi.

Kabar kepergian mantan Bupati Natuna ke-2 itu menyebar cepat. Daeng Rusnadi menghembuskan napas terakhir pada pukul 00.35 WIB di RSUD Natuna, dalam usia 66 tahun. Waktu dini hari itu menjadi momen sunyi yang menyisakan kehilangan mendalam bagi banyak orang.

Di rumah-rumah warga, di warung kopi, hingga di sudut-sudut pelabuhan, nama Daeng kembali disebut. Bukan sekadar dikenang sebagai mantan kepala daerah, tetapi sebagai sosok yang pernah meletakkan fondasi penting bagi Natuna seperti yang dikenal hari ini.

Bagi sebagian masyarakat, Daeng adalah “bapak pembangunan.” Julukan itu bukan tanpa alasan. Di tangannya, wajah Natuna mulai berubah, perlahan namun pasti, menuju arah yang lebih tertata.

Baca Juga: BGN Belum Umumkan Hasil Uji MBG, Orangtua Korban Keracunan Resah

Salah satu jejak yang paling diingat adalah berdirinya pusat pemerintahan yang kini menjadi jantung aktivitas daerah. Di masa kepemimpinannya, gagasan besar itu mulai dirancang, membuka jalan bagi perkembangan birokrasi yang lebih terstruktur.

Tak hanya itu, Masjid Agung Baitul Izzah yang megah juga menjadi simbol warisan yang sulit dilupakan. Bangunannya yang menyerupai Taj Mahal bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga menjadi kebanggaan masyarakat Natuna.

Tokoh Pemuda Natuna, Arifin Dwi Hartanto, mengaku kehilangan sosok yang menurutnya memiliki peran besar dalam membangun daerah.

“Kita sangat kehilangan Daeng Rusnadi, tokoh sentral pembangunan Natuna. Banyak jasa-jasanya yang bisa kami kenang,” ujar Arifin.

Kenangan tentang Daeng bukan hanya soal kebijakan atau bangunan fisik. Ia juga dikenal sebagai pemimpin yang kerap turun langsung ke lapangan, menyapa masyarakat hingga ke wilayah-wilayah terpencil.

Arifin menceritakan, semasa menjabat, Daeng tidak segan mengunjungi daerah-daerah seperti Sedanau, Midai, hingga Serasan. Perjalanan yang tidak mudah itu ia tempuh demi memastikan pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat.

Baca Juga: Dialog dengan Buruh,Aneng Tegaskan Komitmen Soal Upah dan Perlindungan Pekerja di Anambas

“Beliau rutin turun ke pelosok. Itu yang membuat masyarakat merasa diperhatikan,” kata Arifin.

Kedekatan dengan masyarakat menjadi salah satu ciri kepemimpinan Daeng. Ia tidak hanya hadir dalam forum resmi, tetapi juga di tengah kehidupan sehari-hari warga.

Selain pembangunan fisik, Daeng juga meninggalkan jejak di dunia politik. Ia dikenal sebagai sosok yang melahirkan banyak figur tangguh, sekaligus membesarkan partai Golkar di daerah tersebut.

Dari lingkup keluarga, kiprah politik itu juga terlihat. Ia mendorong sang istri, Ngesti Yuni Suprapti, hingga menjadi Wakil Bupati Natuna, serta anaknya, Daeng Ganda, yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD.

Namun, jasa Daeng tidak hanya dirasakan di Natuna. Bagi masyarakat Anambas, namanya juga memiliki arti penting dalam sejarah pemekaran daerah.

Menurut Arifin, Daeng merupakan salah satu tokoh yang sejak awal mendukung pemisahan Anambas dari Natuna. Keputusan itu dinilai sebagai langkah besar demi pemerataan pembangunan.

“Kalau dulu tidak dipisahkan, Anambas mungkin akan sulit berkembang seperti sekarang,” ujarnya.

Dukungan itu kini dikenang sebagai salah satu keputusan penting yang berdampak panjang. Hingga hari ini, masyarakat Anambas masih mengingat peran Daeng dalam membuka jalan bagi daerah mereka untuk tumbuh mandiri.

Di tengah hujan yang belum juga reda, duka itu terasa semakin dalam. Namun, di balik kehilangan, tersimpan cerita panjang tentang pengabdian yang telah ditorehkan.

Kepergian Daeng Rusnadi mungkin meninggalkan ruang kosong, tetapi jejak langkah dan warisannya akan terus hidup dalam ingatan masyarakat Natuna dan Anambas, seperti hujan yang turun pagi itu, tenang, namun penuh makna, mengantar perpisahan seorang tokoh yang telah memberi banyak arti bagi daerahnya.

Editor : Chahaya Simanjuntak
#Daeng Rusnadi Tutup Usia #Mantan Bupati Natuna #natuna