batampos - Elena Rybakina mencatat sejarah baru bagi Kazakhstan setelah memastikan diri menjadi petenis nomor satu dunia untuk pertama kalinya dalam kariernya.
Kepastian tersebut diraih Rybakina setelah menundukkan petenis China, Zheng Qinwen, pada perempat final US Open 2026 di Arthur Ashe Stadium, New York, Rabu (9/9) waktu setempat atau Kamis WIB.
Sempat kehilangan set pertama, Rybakina bangkit dan mengalahkan juara Olimpiade Paris 2024 tersebut dengan skor 3-6, 6-1, 6-4 dalam pertandingan yang berlangsung lebih dari dua jam. Kemenangan itu sekaligus mengantarkan Rybakina ke semifinal US Open untuk pertama kalinya.
"Saya bangga sekali mewakili Kazakhstan," kata Rybakina seperti dikutip dari laman WTA.
Rybakina menjadi petenis ke-30 yang menduduki peringkat satu dunia sejak sistem peringkat WTA diperkenalkan pada 1975. Ia juga menjadi petenis Kazakhstan pertama yang mencapai posisi tertinggi dalam peringkat tenis putri dunia.
Pencapaian tersebut merupakan buah dari konsistensi Rybakina dalam setahun terakhir. Ia mulai memangkas jarak dengan Aryna Sabalenka setelah menjuarai Ningbo pada Oktober 2025, kemudian menutup musim dengan mengalahkan Sabalenka di final WTA Finals di Riyadh.
Memasuki 2026, Rybakina kembali mengalahkan Sabalenka dalam perjalanannya menjuarai Australian Open. Ia kemudian menjadi juara di Stuttgart pada April.
Rangkaian hasil tersebut membuat perolehan poin Rybakina terus mendekati Sabalenka. Pada akhir 2025, Sabalenka memiliki 9.870 poin, sementara Rybakina mengoleksi 4.350 poin.
Sembilan bulan kemudian, jarak keduanya menyusut menjadi hanya 414 poin. Rybakina akhirnya memastikan pergeseran posisi puncak setelah melaju ke semifinal US Open.
Dalam 52 pekan terakhir, Rybakina juga mencatat 62 kemenangan di level WTA, terbanyak di antara seluruh petenis pada periode tersebut. Ia mencapai enam final, mengoleksi empat gelar, serta mencatat 16 kemenangan atas pemain Top 10.
Sempat Dibayangi Cedera
Perjalanan Rybakina di New York tidak sepenuhnya mulus. Ia sempat dibayangi masalah pada pergelangan kaki kiri dan harus menjalani sejumlah sesi latihan untuk memastikan kondisi fisiknya cukup baik tampil di Grand Slam terakhir musim ini.
"Kami harus menguji kaki dan semuanya, jadi itu tidak mudah," ujar Rybakina.
Namun, kekhawatiran tersebut tidak terlihat dalam penampilannya di lapangan. Sebelum menghadapi Zheng, Rybakina belum kehilangan satu set dalam empat pertandingan pertamanya dan hanya sekali menjalani tie-break, saat menghadapi Yuliia Starodubtseva pada babak ketiga.
Penampilan impresif juga ditunjukkannya saat menghadapi mantan petenis nomor satu dunia, Naomi Osaka, di babak 16 besar. Rybakina mencatat 29 winner dan tujuh ace untuk menang dua set langsung 6-1, 6-4.
Menghadapi Zheng, Rybakina sempat kesulitan pada set pertama. Zheng mampu memanfaatkan peluang dan merebut set pembuka dengan skor 6-3.
Rybakina kemudian meningkatkan tekanannya. Ia memenangi enam dari tujuh gim berikutnya untuk merebut set kedua 6-1 dan memaksakan pertandingan berlanjut ke set penentuan.
Pada set ketiga, Rybakina mendapatkan break krusial setelah Zheng melakukan double fault. Keunggulan tersebut mampu dipertahankan hingga pertandingan berakhir.
"Saya kira fokus utama saya dan tim adalah menjuarai turnamen ini, lalu peringkat akan mengikuti," kata Rybakina.
Hadapi Coco Gauff di Semifinal
Di semifinal, Rybakina akan menghadapi Coco Gauff. Pertandingan tersebut menjadi tantangan berikutnya bagi Rybakina dalam upayanya merebut gelar US Open pertamanya.
Sementara itu, semifinal lainnya mempertemukan Aryna Sabalenka dengan Jessica Pegula.
Pergeseran posisi puncak peringkat dunia secara resmi akan terjadi setelah US Open. Pada daftar peringkat yang dirilis Senin (14/9), Rybakina akan menjadi petenis nomor satu dunia dan mengakhiri dominasi Sabalenka yang telah bertahan selama 99 pekan berturut-turut.
Secara keseluruhan, Sabalenka telah menghabiskan 107 pekan di posisi teratas sebelum takhta tersebut direbut Rybakina. (*)
Editor : Jamil Qasim