Air Dohot adalah minuman khas yang identik dengan tradisi kerajaan Melayu, khususnya di Pulau Penyengat Tanjungpinang dan Kepulauan Riau pada umumnya. Minuman klasik ini bukan sekadar pelepas dahaga, namun memiliki nilai dan makna.
***
Air Dohot merupakan minuman khas Raja-raja Melayu. Menurut penuturan masyarakat lokal di Tanjungpinang, minuman ini telah ada sejak masa Kesultanan Riau-Lingga ratusan tahun silam.
Pada masa Kesultanan Riau-Lingga, Air Dohot tergolong sebagai minuman mewah karena hanya bisa dinikmati oleh golongan bangsawan yang ada di lingkungan istana dan disajikan sebagai minuman penutup dalam jamuan makan.
Biasanya, Air Dohot juga disajikan dalam upacara adat atau sebagai suguhan untuk tamu kehormatan, terutama raja atau pemimpin adat.
Air Dohot juga diyakini sebagai minuman khusus bagi para pengembara di Kepulauan Riau. Sebab berisi berbagai macam buah yang sifatnya menyegarkan di tengah perjalanan bagi para pengembara.
Air Dohot terbuat dari campuran bahan alami buah yang memberikan rasa manis menyegarkan dan beraroma harum. Cara pembuatannya cukup sederhana namun memerlukan perhatian agar rasa tetap seimbang. Seluruh bahan alami buah kering dicampur hingga merata, kemudian disajikan.
Air Dohot memiliki cita rasa yang khas dan unik. Bahannya terdiri atas buah dohot kering atau buah kurma merah yang memiliki tekstur mirip kurma kering, kelengkeng, kismis dan lain-lain.
Rasa unik dari Air Dohot dengan kombinasi manis, asam dan segar serta buah-buahan kering. Sehingga warnanya menjadi coklat dan terasa begitu manis.
Kini, Air Dohot bisa dicampur dengan es batu untuk menambah kesegarannya. Minuman ini juga memiliki tekstur yang lembut dan dapat dikonsumsi secara langsung.
Tak hanya itu, manfaat dari Air Dohot ini dipercaya masyarakat lokal Kepulauan Riau, dapat meningkatkan energi, stamina dan menghangatkan badan. Dipercaya dapat menyembuhkan panas dalam karena dapat memberikan rasa segar.
Hingga saat ini, kemasyhuran Air Dohot sebagai salah satu kuliner khas Melayu di Pulau Penyengat Tanjungpinang dan Kepulauan Riau pada umumnya, tetap lestari dan terjaga.
Sebagai simbol kuliner klasik, keberadaan Air Dohot harus terus dijaga eksistensinya agar nantinya generasi muda Kepulauan Riau di masa yang akan datang, tidak melupakan sejarah dan budaya masa lalu.
*Produk Air Dohot Berkembang Menjadi UMKM di Tanjungpinang
Salah seorang pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) bernama 'Air Dohot Hamzah' yakni Raja Aisyah Mutia Zafira, 29 mengatakan Air Dohot terbuat dari buah dohot yang berasal dari benua Afrika.
Kemudian Air Dohot juga dikombinasikan dengan berbagai buah-buahan yang terdiri dari 10 macam buah-buahan kering. Di antaranya buah dohot, kelengkeng kering, buah kesemek hingga kismis kuning.
Jadi untuk buah dohot sendiri sebenarnya tidak ada di Pulau Penyengat atau wilayah Kepri. Jadi harus pesan dahulu," ungkapnya, Rabu (4/12).
Zafira menceritakan Air Dohot menjadi sajian khas Melayu di Pulau Penyengat karena pada zaman kerajaan, Pulau Penyengat menjadi jalur singgah kapal-kapal dagang dari luar Kepulauan Riau.
"Dari situlah awal mulanya bahan bahan air dohot didapat," kata Zafira yang membuka usaha Air Dohot di Pulau Penyengat, Tanjungpinang ini.
Menurut Zafira, Air Dohot juga dipercaya memiliki khasiat yang baik bagi tubuh yakni sebagai penyembuh dan pencegah panas dalam.
"Biasanya yang minum Air Dohot ini, para pengembara karena bersifat menyegarkan," sebutnya.
Zafira mengaku, untuk melestarikan kuliner khas Melayu ini, ia mulai mengembangkan produk Air Dohot dan mulai memperkenalkan citarasa Air Dohot kepada khalayak ramai.
Kini, lanjut Zafira, minuman mewah klasik zaman kerajaan itu, menjadi minuman yang disajikan ke tamu-tamu penting dan memperkenalkannya kepada wisatawan yang berkunjung ke Pulau Penyengat.
"Jadi untuk pemasaran, kami menjadikan minuman ini sebagai welcome drink (minuman selamat datang) di Pulau Penyengat," ujarnya.
Zafira mengungkapkan, membuka usaha kuliner dengan produk Air Dohot adalah langkah untuk melestarikan warisan budaya Melayu sekaligus menciptakan peluang bisnis yang unik.
Menurut Zafira, mengembangkan kuliner klasik Air Dohot tidak hanya berpotensi memberikan keuntungan. Namun menjadi langkah konkret dalam melestarikan budaya Melayu.
Melalui inovasi dan pemasaran yang tepat, dan usaha ini bisa menjadi simbol kebanggaan lokal sekaligus daya tarik wisata," katanya.
Zafira melanjutkan, kuliner minuman klasik ini tidak bertahan lama. Setelah diseduh hanya dapat bertahan selama 30 jam atau lebih kurang dua hari.
"Harga antara Rp13 ribu Rp20 ribu. Untuk mengakali, kami juga menjual buah kering siap seduh atau bisa direbus juga," ungkap Zafira.
Zafira menegaskan, Air Dohot lebih dari sekadar kuliner minuman. Air Dohot merupakan minuman klasik yang menjadi warisan budaya yang kaya makna. Menikmati Air Dohot juga berarti meresapi nilai-nilai kehidupan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Melayu.
"Setiap tegukan adalah pengingat akan pentingnya rasa syukur," tutup mantan wartawan ini. (*)
Editor : Tunggul Manurung