Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Nostalgia Sejuta Cerita dari Tangga Ikonik dan Legendaris di Kota Lama

Yusnadi BP • Senin, 21 April 2025 | 14:00 WIB
Suasana sore hari di kawasan Tangga Batu Tanjungpinang.
Suasana sore hari di kawasan Tangga Batu Tanjungpinang.

Tanjungpinang kota yang kaya akan sejarah dan budaya, menyimpan banyak tempat ikonik dan legendaris. Menjadi bagian tidak terpisahkan dari perjalanan waktu dan kehidupan masyarakatnya. Salah satunya adalah Tangga Batu. Tempat yang paling dikenang dan menyimpan sejuta cerita nostalgia.

***

Tangga Batu atau Tangga Bertingkat yang masyhur disebut masyarakat sebagai Tangga Apollo ini, menjadi salah salah satu lokasi atau tempat yang ikonik dan legendaris di Kota Tanjungpinang.

Tangga yang menghubungkan Jalan Diponegoro, Jalan Gereja, Jalan Teuku Umar, Jalan Sunaryo dan Jalan Kemboja Tanjungpinang ini, menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan kehidupan masyarakat Tanjungpinang.

Tangga Batu terletak di kawasan pusat Kota Lama Tanjungpinang ini, menghubungkan dataran yang rendah dengan dataran yang lebih tinggi di atas perbukitan.

Pada masa lalu, tangga ini dipercaya menjadi akses utama bagi masyarakat yang ingin menuju ke rumah-rumah panggung, sekolah, pasar, masjid dan gereja hingga pelabuhan.

Terbuat dari batu alam dan campuran semen, tangga ini dibangun kokoh dan tahan lama yang seakan-akan menjadi simbol ketangguhan serta keakraban masyarakat dengan lingkungan.

Konon, Tangga Batu di Tanjungpinang telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Meskipun telah banyak pembangunan modern menggantikan jalanan lama, Tangga Batu tetap berdiri, menyimpan sisa sisa nostalgia yang tidak terlupakan.

Mengutip catatan sejarawan, tangga legendaris itu disebut Tangga Batu atau Tangga Apollo. Tangga tersebut berperan penting sebagai fasilitas umum dan akses jalan pintas di Tanjungpinang.

Karena letak geografis Kota Tanjungpinang yang berbukit-bukit, maka pada zaman dahulu kala, dibuat tangga yang terbuat dari batu dengan tujuan agar kota terlihat indah, rapi dan artistik.

Batu yang digunakan pada pembangunan tangga tersebut berasal dari sebuah pabrik batu alam yang berada di Senggarang pada zaman dahulu. Batu yang digunakan pada Tangga Batu tersebut, sama dengan yang digunakan pada Masjid Sultan Riau Penyengat.

Oleh karena itu, Tangga Batu atau Tangga Apollo bukan hanya sekadar batu-batu yang tersusun menanjak. Tangga legendaris itu adalah jalan nostalgia masa lalu yang patut dikenang, dirawat dan dibanggakan.

Mengenang Masa Kecil di Tangga Apollo
Bagi banyak warga Tanjungpinang, terutama generasi 80-an dan 90-an, Tangga Batu bukan sekadar jalur penghubung. Tempat ini menjadi titik pertemuan, arena bermain masa kecil, bahkan tempat bersantai dan berbagi cerita.

Pada masa lampau itu, baik pagi, siang dan sore hari, tangga ini juga menjadi titik kumpul masyarakat, terutama generasi muda untuk bersosialisasi dan menikmati suasana bersama teman-teman. Anak-anak biasanya berlomba-lomba menaiki anak tangga sambil tertawa riang atau sekadar duduk bersantai di anak tangga.

Tidak jarang pula, para pedagang kaki lima menghiasi dan menjajakan makanan ringan di sekitar Tangga Batu. Namun yang paling terkenang pada masa itu adalah camilan es campur yang terkenal dengan sebutan es apollo. Maka disebutlah Tangga Batu itu dengan sebutan Tangga Apollo.

Saat ini, nostalgia menikmati es apollo di sekitar Tangga Batu atau Tangga Apollo, masih membekas di ingatan masyarakat yang pernah merasakannya. Minuman segar favorit dan masih sering dibicarakan ini, tidak hanya menawarkan rasa yang khas, tetapi juga membangkitkan nostalgia bagi siapa saja yang pernah menikmatinya di masa lalu.

"Waktu kecil sekitar tahun 80-an, kami dan kakak serta adik, kalau pulang dari madrasah di Jalan Sunaryo, pada sore hari pasti kami singgah main di situ (Tangga Batu) sama teman-teman. Tidak lupa jajan es apollo," kenang Nasrul, 47, warga Jalan Kemboja Tanjungpinang kepada Batam Pos, Ahad (20/4).

Tangga Batu atau Tangga Apollo, kata Nasrul, juga berfungsi sebagai jalan penghubung antara pemukiman masyarakat di Jalan Kemboja, Kampung Bukit, Jalan Sunaryo dan Jalan Diponegoro, dengan kawasan Kota Lama yakni Jalan Teuku Umar, pasar Jalan Merdeka, Masjid Agung Al Hikmah dan pelabuhan Sri Bintan Pura.

"Dahulu, kami dari rumah kalau mau main ke tepi laut atau belanja ke pasar atau pun pergi salat ke masjid, ya jalan kaki lewat tangga itu sebagai jalan potong (jalan pintas)," ungkapnya, mengingat masa kecil.

Menurut Nasrul, bagi siapa pun yang pernah melangkah di Tangga Batu, kenangan masa kecil tidak akan pernah benar-benar pudar. Setiap anak tangga seolah menyimpan sejuta cerita kehidupan masyarakat Tanjungpinang dari masa ke masa.

"Tangga Apollo adalah aset yang harus dijaga. Semoga pihak berwenang memperhatikan tempat ini karena banyak kenangan di sini," harap pengusaha kecil dan menengah di Tanjungpinang ini.

Baca Juga: Ini Penyebab Dermaga Kota Rebah Rusak Parah 

Melestarikan dan Menjaga Keberadaan Tangga Batu di Tengah Modernisasi
Tangga Batu atau Tangga Apollo yang berada di kawasan Kota Lama Tanjungpinang ini, bukan hanya struktur fisik, tetapi sebagai simbol perjalanan dan kenangan bagi masyarakat Tanjungpinang.

Namun seiring berjalannya waktu, popularitas Tangga Batu mulai redup. Pembangunan jalan raya dan akses kendaraan perlahan menggeser fungsi tangga ini sebagai jalan penghubung.

Meskipun demikian, Pemerintah Kota Tanjungpinang melalui Dinas Budaya dan Pariwisata tidak tinggal diam. Pihak berwenang mulai memperhatikan keberadaan tangga legendaris yang penuh kenangan ini dengan upaya pelestarian. Salah satunya dengan menjadikan Tangga Batu sebagai objek cagar budaya Tanjungpinang.

Melalui pelestarian dan penghargaan terhadap Tangga Baru sebagai cagar budaya ini, masyarakat dapat terus merajut kisah masa lalu ke dalam kehidupan modern. Memastikan bahwa sejarah tetap hidup bagi semua generasi mendatang.

Dengan demikian, generasi mendatang dapat terus merasakan dan dapat menghargai nilai-nilai sejarah yang terkandung dalam Tangga Batu atau Tangga Apollo ini.

Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Tanjungpinang telah merekomendasikan lima objek bersejarah untuk ditetapkan sebagai cagar budaya Tanjungpinang tahun 2024. Keputusan ini diambil setelah melalui sidang penetapan dan proses kajian mendalam yang melibatkan berbagai aspek sejarah, arsitektur, dan nilai budaya.

Ketua TACB Tanjungpinang Zulhidayat mengungkapkan, lima objek yang terpilih menjadi cagar budaya Tanjungpinang adalah kompleks makam keluarga penghulu Kampung Bugis, dua bekas Kantor Pemerintah Provinsi Riau, Bangku Panjang Wilhelmina (Wilhelmina Bank) dan Tangga Batu.

Melalui penetapan sebagai cagar budaya, lima objek tersebut akan mendapatkan perlindungan hukum. Penetapan itu juga diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi wisatawan serta dapat memperkuat identitas budaya Tanjungpinang.

Selain itu, objek cagar budaya mendapatkan perawatan dan upaya pelestarian yang lebih baik, sehingga nilai sejarahnya tetap terjaga bagi generasi mendatang.

Selanjutnya, keberadaan cagar budaya baru di Tanjungpinang ini juga dapat memberikan dampak yang positif bagi kehidupan dan perekonomian masyarakat sekitar.

“Dengan adanya cagar budaya baru, Tanjungpinang semakin kaya akan sejarah dan budaya. Ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat dengan Tanjungpinang,” kata Zulhidayat, beberapa waktu lalu. (*)

 

Editor : Tunggul Manurung
#kota lama