Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Tetap Bertahan di Zaman Modern, Jejak Klasik Transpot Legendaris Menghiasi Jalanan Kota Lama Tanjungpinang

Yusnadi BP • Selasa, 9 September 2025 | 18:00 WIB

Transpot adalah sebutan khas masyarakat Tanjungpinang dan Bintan untuk angkutan kota (angkot) berbentuk minibus. Sempat berjaya dan pernah menemani mobilitas masyarakat serta menjadi urat nadi transportasi publik di Kota Gurindam.

***

Sejumlah transpot menunggu penumpang di kawasan Jalan Merdeka Kota Lama Tanjungpinang.
Sejumlah transpot menunggu penumpang di kawasan Jalan Merdeka Kota Lama Tanjungpinang.

Bagi sebagian generasi muda Tanjungpinang, kata "transpot" yang diambil dari kosakata transportasi, mungkin terdengar asing. Namun bagi generasi yang tumbuh pada era 1990-an hingga awal 2000-an, transpot adalah legenda tranportasi dan menyimpan segudang kenangan.

Dengan bodi minibus klasik berukuran sedang, tempat duduk saling berhadapan dan alunan musik Melayu yang kerap diputar dari tape (audio) tua di dalam transpot, selalu menciptakan suasana tersendiri.

Beberapa dekade lalu, saat sepeda motor dan mobil pribadi masih dianggap barang mewah dan belum merata di Tanjungpinang, transpot hadir sebagai penyambung langkah dan mobilitas masyarakat Tanjungpinang.

Dahulu, dengan tarif yang ramah kantong, transpot yang memiliki beragam warna ini, menjadi pilihan utama para pelajar, pedagang pasar, pegawai negeri, karyawan swasta, hingga ibu-ibu rumah tangga yang ingin berbelanja ke pasar, meski harus berdesakan di dalam gerbong kendaraan roda empat itu.

Setiap pagi, siang dan sore hari, suara klakson khas transpot berpadu dengan teriakan sopir atau kenek yang memanggil penumpang, menghadirkan suasana kesibukan khas di jalanan Kota Gurindam masa lalu.

Masa keemasan angkutan kota (angkot) yang khas disebut transpot ini, diperkirakan berlangsung sejak era 1990-an. Kala itu, jalan raya di Tanjungpinang, selalu dipadati deretan transpot warna warni merah, hijau, kuning dan putih yang menjelajahi seluruh sudut kota.

Penumpang dari berbagai kalangan dan penjuru kota, naik-turun dengan mudah, cukup melambaikan tangan dari pinggir jalan. Suara klakson pendek dan teriakan khas sopir atau kenek, menjadi pemandangan sehari-hari.

Pada masa itu, transpot juga bukan sekadar kendaraan penghubung antar kawasan di Tanjungpinang. Transpot adalah ruang sosial bergerak, tempat orang-orang (penumpang) bercengkerama atau sekadar berbagi cerita singkat sepanjang perjalanan.

Tidak jarang, transpot menjadi ajang pertemuan yang tidak terduga antar penumpang satu trayek. Mempertemukan kembali dengan sahabat lama yang saling berinteraksi sepanjang perjalanan menuju satu tujuan.

Namun kini, jalanan Kota Lama Tanjungpinang telah dipenuhi kendaraan pribadi, minimnya peremajaan transpot dan tingginya harga bahan bakar, membuat transpot mulai meredup.

Hadirnya jasa transportasi daring (online), merajai kebutuhan mobilitas masyarakat, membuat transpot tidak lagi sepopuler dulu. Kini, jumlahnya pun bisa dihitung dengan jari.

Saat ini, sebagian transpot masih bertahan melayani rute lama dan rute bebas, namun perlahan mulai tersisih dan hanya tersisa transpot berwarna putih. Meskipun demikian, transpot tetap bertahan di zaman modern saat ini dan tetap meninggalkan memori yang melekat di benak generasi terdahulu.

Bagi siapa saja yang pernah merasakan duduk berhimpitan di bangku besi transpot dan mendengar suara mesin tuanya, atau menunggu di simpang jalan dengan sabar, kenangan dan memori itu akan tetap hidup. Mengantarkan siapa saja kembali ke masa lalu, saat perjalanan terasa lebih sederhana, namun penuh makna.

Menurut cerita dan sepengetahuan sopir transpot Yulnedi (54), angkot atau transpot, mulai beroperasi di Tanjungpinang sejak awal 1980-an. Seingatnya, transpot hadir dengan sejumlah warna.

Kala itu sekitar tahun 1990-an, transpot memiliki nama khas Melayu seperti Segantang Lada, Lancang Kuning dan Sri Mersing. Selain itu ada nama Wirasanti, Nova Indah, Laila Trans. Kini, hanya dua nama transpot yaitu Bayu Putra dan Pacitan Indah berwarna putih.

Saat itu, jalur transportasi darat mulai berkembang pesat. Rutenya sederhana, bolak-balik menghubungkan berbagai permukiman masyarakat dengan pusat Kota Lama, kawasan pasar hingga pelabuhan di Tanjungpinang.

"Kami jadi sopir transpot mulai tahun 1998 hingga tahun 2010. Transpot warna putih. Mangkalnya di terminal pasar (Kota Lama Tanjungpinang)," kenang Yulnedi saat diwawancarai Batam Pos di Kota Lama Tanjungpinang, Senin (8/9).

Transpot, kata Yulnedi, mempunyai nilai emosional dan bermakna. Pada masa jayanya, transpot satu-satunya transportasi yang menemani perjalanan masyarakat ke sekolah, ke pasar, pelabuhan atau rute luar kota seperti ke pantai bersama teman dan keluarga.

Pada masa jayanya, transpot yang memiliki nomor rute dan tarif murah meriah ini, sempat menjadi transportasi pilihan utama masyarakat, sebelum hadirnya transportasi online dan kendaraan pribadi yang kian mendominasi jalanan kota.

Meskipun transpot tidak lagi sepopuler dahulu dan jumlahnya semakin berkurang, tetapi masih ada puluhan unit transpot yang beroperasi. Para sopir transpot, tetap setia melayani mobilitas masyarakat Tanjungpinang.

"Saat kami masih jadi sopir transpot, jauh-dekat, ongkosnya cuma Rp2.500. Tahun-tahun sebelumnya, lebih murah lagi. Sekarang, jauh-dekat ongkosnya Rp5ribu," ujar Yulnedi.

Walaupun tidak lagi berkecimpung di dunia tranportasi, Yulnedi mengaku, saat ini ia masih menggunakan jasa transportasi klasik legendaris itu, untuk bepergian ke sejumlah kawasan di Tanjungpinang.

"Kawan-kawan (sopir transpot) masih ada yang narik. Jadi kami sesekali nostalgia. Kalau ke pasar beli berbagai kebutuhan untuk jualan, ya naik transpot pribadi punya kawan," ungkap Yulnedi yang kini banting setir menjadi pedagang.

Meskipun hanya satu dekade lebih melakoni panggung tranportasi di Tanjungpinang, Yulnedi tetap bersyukur telah mendapatkan rezeki halal dan dapat menghidupi keluarga saat menjadi sopir transpot.

"Kawan-kawan sopir transpot, tetap semangat dan bersyukur, walaupun sekarang ada kendaraan online. Kalau sudah rezeki, tidak akan kemana-mana," ucapnya.

Baca Juga: Mandi Pagi dengan Air Dingin Ternyata Bisa Ringankan Gejala Depresi, Ini 5 Manfaatnya

Simbol Nostalgia Masyarakat Kota Gurindam

Kini, transpot kerap muncul dalam perbincangan masyarakat generasi lama sebagai simbol nostalgia. Transpot klasik tetap melekat di hati. Keberadaannya lebih dari sekadar tranportasi umum, tetapi transpot adalah bagian dari identitas Kota Tanjungpinang.

Generasi baru mungkin hanya mengenal transpot dari cerita orang tua atau sekilas melihatnya membawa penumpang melintas di jalanan kota. Tetapi bagi yang pernah merasakan berada di transportasi umum legendaris itu, menjadi sebuah memori dan kenangan.

“Dahulu kalau pergi atau pulang sekolah, kami ramai-ramai bisa muat di satu transpot. Tapi sekarang, anak-anak sudah jarang naik transpot, lebih suka diantar orang tua atau pakai motor sendiri,” kata Badria Lisa (56), warga Kelurahan Kemboja Tanjungpinang.

Menurutnya, transpot itu bukan hanya angkutan kota, tapi saksi sejarah kehidupan masyarakat Tanjungpinang. Selama kota ini ada, kisah transpot tak akan pernah hilang dari ingatan.

"Kami ingat dahulu ada terminal di Jalan Teuku Umar Kota Lama Tanjungpinang. Di situ banyak transpot macam-macam warna dan bus yang mangkal," ungkap Lisa yang sejak kecil akrab dengan transpot.

Transpot, kata Lisa, tidak hanya mengantar penumpang ke tujuan, tetapi menyimpan kenangan. Dalam ingatan, roda tuanya masih berputar, membawa siapa saja yang pernah merasakan naik transpot, akan kembali ke masa lalu yang sederhana.

“Kalau dahulu mau ke mana-mana pasti naik transpot. Warnanya macam-maca Kami sampai hafal trayeknya hanya dengan lihat warna transpot,” kenang Lisa. (*)

Editor : Tunggul Manurung
#angkot