Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Minyakita Sempat Tembus di Atas HET di Tanjungpinang, Satgas Pangan Klaim Belum Temukan Pelanggaran

Mohamad Ismail • Selasa, 14 Juli 2026 | 22:01 WIB
Ratusan dus minyakita saat proses bongkar muat di gudang distributor Jalan Sukaramai Tanjungpinang. F. Mohamad Ismail/Batam Pos
Ratusan dus minyakita saat proses bongkar muat di gudang distributor Jalan Sukaramai Tanjungpinang. F. Mohamad Ismail/Batam Pos

batampos – Harga minyak goreng subsidi pemerintah, Minyakita, sempat mengalami kenaikan di atas harga eceran tertinggi (HET) di Kota Tanjungpinang. Kondisi tersebut terjadi setelah pasokan sempat mengalami kekosongan di sejumlah titik penjualan.

Meski demikian, Satgas Pangan Tanjungpinang mengaku belum menerima laporan terkait dugaan penimbunan maupun praktik penjualan Minyakita di atas HET yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.

Ketua Satgas Pangan Tanjungpinang, AKP Wamilik Mabel, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap ketersediaan dan harga bahan pokok di pasaran.

"Untuk dugaan penimbunan belum ada ditemukan. Untuk harga, itu dinamis. Jika pengadaannya sedikit, harga bisa naik," ujar Wamilik, Selasa (14/7).

Ia menjelaskan, Polresta Tanjungpinang bersama instansi terkait secara rutin melakukan pengecekan ke lapangan untuk memastikan kondisi stok serta perkembangan harga kebutuhan pokok masyarakat.

Terkait sempat kosongnya stok Minyakita di sejumlah wilayah, Wamilik mengaku belum menerima laporan resmi dari masyarakat maupun pedagang mengenai adanya lonjakan harga yang melampaui ketentuan.

"Kita rutin mengecek ke lapangan, namun belum ada aduan terkait kenaikan harga," katanya.

Namun, kondisi berbeda dirasakan sejumlah pedagang sembako di Tanjungpinang. Salah seorang pedagang, Sabil, mengatakan pasokan Minyakita sempat sulit diperoleh dalam beberapa bulan terakhir sehingga harga jual mengalami kenaikan.

Menurutnya, Minyakita yang biasanya dijual sekitar Rp17 ribu per liter sempat naik hingga mencapai Rp19 ribu per liter akibat keterbatasan stok.

"Sejak hari itu tidak ada lagi pasokan. Memang susah. Biasanya dijual Rp17 ribu, tapi kalau kami naikkan Rp19 ribu, pembeli pasti protes. Namun barang memang sulit masuk ke Tanjungpinang," ujarnya.

Ia menegaskan kenaikan harga tersebut bukan semata-mata karena pedagang ingin mengambil keuntungan lebih besar, melainkan dampak dari sulitnya mendapatkan pasokan.

Pedagang lainnya di Pasar Bintan Center, A’an, mengaku sempat mendatangkan Minyakita dari Batam untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Namun, biaya tambahan pengiriman membuat harga jual ikut meningkat.

"Kadang tidak benar-benar kosong, tapi kami ambil barang dari Batam. Karena ada ongkos angkut, akhirnya harga jual ikut naik. Barang itu juga bukan dari distributor resmi kami," katanya.

Meski sempat mengalami kendala distribusi, A’an menyebut kondisi saat ini mulai membaik setelah pasokan Minyakita kembali masuk ke Tanjungpinang.

Ia berharap distribusi berjalan lancar sehingga harga dapat kembali sesuai ketentuan pemerintah.

"Alhamdulillah sekarang mulai stabil. Minggu depan juga akan masuk lagi, jadi kami bisa menjual sesuai harga sekitar Rp15.700," pungkasnya. (*)

Editor : Jamil Qasim
MinyaKita satgas pangan