6.037 KK Tanjungpinang Sempat Naik Desil, Kini Mulai Kembali Turun

Mohamad Ismail • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 19:32 WIB
Warga saat melakukan pengurusan desil di Dinsos Tanjungpinang. F. Dinsos untuk Batam Pos
Warga saat melakukan pengurusan desil di Dinsos Tanjungpinang. F. Dinsos untuk Batam Pos

batampos  — Sejumlah warga kurang mampu di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, kembali tercatat dalam desil rendah Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), setelah sebelumnya mengalami kenaikan desil secara mendadak.

Perubahan tersebut terjadi setelah warga menyampaikan protes dan melakukan pengurusan data melalui kelurahan masing-masing. Salah satunya dialami Sutikno, penyandang disabilitas di Kelurahan Bukit Cermin.

"Desilnya sudah turun menjadi desil empat, kemarin sempat desil sembilan," kata Maryani, kakak kandung Sutikno, Kamis (3/9).

Sebelumnya, Sutikno sempat masuk desil sembilan. Kondisi tersebut membuat ia tidak lagi menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) sejak Mei 2026. Padahal, menurut Maryani, kondisi ekonomi adiknya tergolong sulit.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Tanjungpinang Endang Susilawati mengatakan, sedikitnya terdapat 6.037 kepala keluarga (KK) di Tanjungpinang yang mengalami pergeseran dari desil rendah ke desil tinggi.

Saat ini, proses perubahan data dari desil tinggi kembali ke desil rendah masih dilakukan. Dinsos Tanjungpinang juga masih melakukan pendataan untuk mengetahui jumlah kepala keluarga yang telah kembali masuk desil rendah.

"Sedang dipindahkan oleh operator untuk dipilah berdasarkan kelurahan," ujar Endang.

Ia menjelaskan, pemutakhiran dan pemadanan data sosial ekonomi dilakukan secara nasional. Proses tersebut berdampak terhadap perubahan pemeringkatan desil masyarakat.

Menurutnya, pengolahan dan pemodelan statistik dalam menentukan peringkat desil dilakukan secara nasional dan bukan merupakan keputusan mandiri pemerintah daerah.

Pemutakhiran data tersebut mencakup berbagai variabel kondisi rumah tangga, mulai dari jenis lantai, dinding, atap, fasilitas sanitasi, sumber air, hingga kepemilikan aset keluarga.

Karena itu, Endang mengimbau masyarakat tidak menyimpulkan status desil hanya berdasarkan satu indikator tertentu.

"Seperti kepemilikan kendaraan atau besarnya penghasilan semata," pungkasnya. (*)

Editor : Jamil Qasim
Sempat Naik Desil Kembali Turun