batampos – Cuaca di Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan diprakirakan didominasi kondisi berawan hingga Rabu (21/10). Meski demikian, hujan ringan berpotensi mengguyur sejumlah wilayah pada siang hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang, Miranda Putri Permatasari, mengatakan hujan yang berpotensi turun bersifat lokal, berlangsung singkat, dan tidak merata di seluruh wilayah.
“Secara umum kondisi tiga hari ke depan berawan dengan potensi hujan ringan pada siang hari yang bersifat lokal atau tidak merata di beberapa wilayah di Kabupaten Bintan,” kata Miranda, Selasa (20/10).
Berdasarkan prakiraan BMKG periode 19–21 Oktober 2026, hujan ringan berpotensi terjadi di Kecamatan Tanjungpinang Timur pada Selasa (20/10).
Sementara di Kabupaten Bintan, wilayah yang berpotensi mengalami hujan ringan meliputi Kecamatan Bintan Pesisir, Bintan Timur, Gunung Kijang, Mantang, dan Teluk Sebong.
Miranda menjelaskan, potensi pembentukan awan hujan di wilayah Pulau Bintan dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer. Salah satunya adalah pola belokan angin atau shearline di sekitar Pulau Bintan yang mendukung pertumbuhan awan konvektif pembawa hujan.
Selain itu, suhu permukaan laut di perairan sekitar Pulau Bintan yang berkisar 29–30 derajat Celsius menunjukkan kondisi perairan relatif hangat.
Kondisi tersebut, ditambah ketersediaan uap air dan atmosfer yang cenderung labil ringan, turut mendukung proses pembentukan awan hujan.
Meski demikian, BMKG memperkirakan hujan tidak akan turun secara merata. Karena itu, masyarakat diminta tetap memantau perkembangan informasi cuaca, terutama sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Selain potensi hujan, BMKG turut mengingatkan masyarakat mengenai kemungkinan sebaran asap karhutla di sekitar Pulau Bintan.
Asap tersebut berpotensi mengurangi jarak pandang dan menurunkan kualitas udara apabila terbawa angin ke wilayah permukiman maupun pusat aktivitas masyarakat.
“Masyarakat juga diimbau untuk mewaspadai potensi sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Pulau Bintan yang dapat mengganggu jarak pandang serta menurunkan kualitas udara,” pungkas Miranda. (*)