batampos - Setelah hampir delapan dekade menjadi bagian dari denyut kuliner Kampong Glam, Warong Nasi Pariaman akhirnya menurunkan tirai.
Penutupan restoran nasi Padang tertua di Singapura ini tak hanya memicu nostalgia pelanggan setia, tetapi menarik perhatian pemerintah.
Keputusan tersebut menandai akhir perjalanan panjang usaha. Urban Redevelopment Authority (URA) menanggapi kabar ini dengan berkomunikasi kepada pihak keluarga untuk memberikan berbagai opsi bantuan.
URA merupakan badan pemerintah yang menangani perencanaan penggunaan lahan dan pelestarian warisan di Singapura.
Langkah URA dilakukan untuk membantu usaha - usaha warisan yang menghadapi tantangan ekonomi, termasuk biaya tenaga kerja, biaya bahan, serta adaptasi terhadap perubahan permintaan konsumen di kawasan bersejarah.
Pernyataan URA menggarisbawahi bahwa pemerintah menyadari pelestarian bisnis warisan seperti Warung Nasi Pariaman yang berkontribusi terhadap karakter dan identitas kawasan bersejarah di Singapura.
URA menyebutkan bahwa pemerintah memiliki sejumlah langkah dukungan termasuk interagency task force untuk bisnis warisan, serta program bantuan transformasi bisnis yang mencakup pelatihan, pemasaran, dan digitalisasi.
Adanya kenaikan harga sewa di kawasan Kampong Glam, Little India, dan Chinatown relatif moderat dalam dua tahun terakhir. Pelaku bisnis warisan tetap menghadapi biaya yang signifikan.
Rata - rata sewa tahunan di Kampong Glam meningkat sekitar 2% per tahun. Tekanan biaya lain seperti tenaga kerja dan material semakin tinggi.
Program kolaboratif seperti pilot scheme yang dikembangkan bersama Kampong Glam Alliance disebut sebagai inisiatif untuk membantu mempertahankan restoran warisan.
Melalui relokasi internal di kawasan tersebut untuk mempertahankan fungsi dan daya tarik historisnya.
Sejak pengumuman penutupan, pelanggan setia warung nasi Pariaman telah menunjukkan respon kuat.
Banyak pengunjung rela mengantri sejak pagi hari untuk mencicipi hidangan terakhir mereka di kedai.(*)
Editor : Juliana Belence