Bulang Linggi, Kapal Perang Legendaris Raja Haji Fisabilillah yang Menjadi Simbol Kejayaan Maritim Tanjungpinang
Yusnadi BP• Selasa, 6 Januari 2026 | 06:00 WIB
Replika kapal perang legendaris Bulang Linggi di Jalan Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang. F. Yusnadi Nazar/Batam Pos
Batampos - Kisah kejayaan maritim masa lalu tersimpan kuat di perairan Tanjungpinang dan Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Salah satunya melalui kapal perang legendarisBulang Linggi, armada tempur andalan Raja Haji Fisabilillah dalam melawan kolonial pada abad ke-18.
Dalam catatan sejarah, Bulang Linggi dikenal sebagai kapal perang utama Raja Haji Fisabilillah, Pahlawan Nasional asal Kesultanan Riau Lingga. Kapal ini digunakan dalam berbagai operasi laut, termasuk pertempuran heroik pada6 Januari 1784di perairan Tanjungpinang–Pulau Penyengat, yang kemudian ditetapkan sebagaiHari Jadi Kota Tanjungpinang.
Peneliti Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dedi Arman, menjelaskan Bulang Linggi merupakan kapal jenispenjajap, yakni kapal yang dirancang khusus untuk pertempuran laut dan kepentingan diplomatik kerajaan. Kapal tersebut dibuat di Asahan dan merupakan pemberian dari Kesultanan Asahan kepada Raja Haji Fisabilillah.
"Bulang Linggi disebut dalam naskahHikayat Negeri JohordanTuhfat Al Nafis. Kapal ini digunakan Raja Haji Fisabilillah untuk pertempuran laut dan urusan diplomatik," ujar Dedi, Senin (5/1/2026).
Secara fisik, Bulang Linggi memiliki badan kapal yang kokoh dari kayu pilihan hutan Sumatra, dengan lambung ramping namun kuat menghadapi gelombang. Kapal ini dilengkapi layar besar, dayung, serta dipersenjatai meriam dan senjata tradisional, mampu mengangkut puluhan pasukan tempur beserta amunisi.
Sejak digunakan sekitar tahun 1753, Bulang Linggi berperan penting dalam patroli menjaga wilayah Kesultanan Riau Lingga serta menjadi sarana utama Raja Haji Fisabilillah berlayar ke berbagai wilayah Nusantara, termasuk rute Tanjungpinang–Linggi di utara Malaka.
Menurut Dedi, Bulang Linggi menjadi pusat komando Raja Haji Fisabilillah dalam berbagai peperangan, termasukPerang LinggidanPerang Riau. Dari kapal inilah strategi disusun dan serangan terhadap kapal serta basis kolonial di Melaka dilancarkan.
"Puncak pertempuran terjadi pada 6 Januari 1784. Pasukan Raja Haji Fisabilillah berhasil memukul mundur kekuatan kolonial dari Tanjungpinang," jelas Dedi.
Usai kemenangan tersebut, Raja Haji Fisabilillah melanjutkan serangan ke basis kolonial di Melaka pada Februari 1784. Namun, dalam pertempuran sengit di Teluk Ketapang, Melaka, sang panglima gugur pada 18 Juni 1784. Sejak saat itu, Bulang Linggi menghilang dari catatan sejarah.
Meski keberadaan fisiknya tak lagi diketahui, Bulang Linggi tetap dikenang sebagai simbol keberanian, strategi, dan kejayaan maritim. Saat ini, replika kapal Bulang Linggi berdiri di Jalan Bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjungpinang, sebagai upaya mengenalkan kembali sejarah perjuangan Raja Haji Fisabilillah kepada generasi muda.
"Replika Bulang Linggi dibangun untuk mengenalkan perjuangan heroik Pahlawan Nasional Raja Haji Fisabilillah dan kejayaan maritim Tanjungpinang di masa lalu," tutup Dedi. (*)