Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Desa Mepar Gelap Gulita Sejak Lebaran Hari Ketiga, Kepala PLN Dabo Bilang Ini

Vatawari BP • Kamis, 26 Maret 2026 | 18:30 WIB

Suheri, Kepal kantor ULP PLN Dabo Singkep, Kamis (26/3). F. Vatawari/BATAM POS
Suheri, Kepal kantor ULP PLN Dabo Singkep, Kamis (26/3). F. Vatawari/BATAM POS

Batampos - Warga Desa Mepar, Kabupaten Lingga mendesak tindakan nyata PLN Dabo Singkep atas buruknya layanan listrik yang tak kunjung stabil. Mesin pembangkit yang terus rusak dinilai gagal memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.Akibatnya, desa tersebut pun sering gelap gulita.

Gangguan listrik terjadi berulang tanpa solusi jelas. Pemadaman panjang bukan lagi kejadian insidental, melainkan sudah menjadi rutinitas yang merugikan warga setiap hari.

Aktivitas masyarakat pun lumpuh akibat kondisi tersebut. Anak-anak kesulitan belajar, usaha kecil terganggu, dan kebutuhan rumah tangga tidak terpenuhi secara normal.

Warga menilai perbaikan yang dilakukan selama ini hanya tambal sulam. Mesin yang sama terus diperbaiki, namun tetap tidak mampu menopang kebutuhan listrik desa.

Desakan pun diarahkan kepada pemerintah daerah dan Perusahaan Listrik Negara untuk segera mengambil langkah tegas. Warga meminta solusi permanen, bukan perbaikan sementara yang berulang.

Penyambungan jaringan listrik dari pusat ibu kota Kabupaten Lingga dinilai sebagai solusi paling realistis. Warga menilai jarak yang tidak terlalu jauh seharusnya tidak lagi menjadi alasan.

Kondisi ini semakin terasa ironis saat Hari Raya, ketika listrik justru kerap padam. Momen yang seharusnya penuh cahaya berubah menjadi simbol kegagalan pelayanan dasar.

Padahal, Desa Mepar memiliki potensi besar sebagai desa wisata dan telah masuk nominasi 500 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia. Tanpa listrik yang layak, potensi itu terancam sia-sia.

Warga kini menunggu keberanian pemerintah dan PLN untuk bertindak. Mereka menuntut listrik yang stabil sebagai hak dasar, bukan janji yang terus berulang tanpa realisasi.

Kepala Desa Mepar Handoyo mengatakan, bahwa pemadaman Listrik tersebut terjadi sejak lebaran ketiga dan hingga hari ini listrik tak kunjung menyala. Padahal listrik di Desa Mepar itu hanya menyala 14 jam dari jam 5 sore sampai jam 7 pagi.

"Di Desa kita sudah dua hari tidak ada listrik, masyarakat pun sudah pada mengeluh. Padalah listrik kita hanya nyala 14 jam, ini malah tidak menyala sama sekali," kata Handoyo, Kamis 25 (26/3/2026).

Menurut Handoyo, kondisi mesin yang ada saat ini memang sangat tidak layak dan sering rusak. Namun kali ini tidak menyala sama sekali.

"Kondisi mesin yang ada memang tidak layak," ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Suheri Kepala Kantor Unit Layanan Pembantu (ULP) Dabo Singkep mengatakan pihaknya akan segera mungkin melakukan tindakan pada mesin pembangkit listrik di Desa Mepar.

"Alhamdulillah hari ini mesin yang baru sudah diberangkatkan dari Tanjungpinang menggunakan kapal catar. Jika sore atau malam sudah sampai akan langsung dipasang," ujar Suheri.

Suheri menjelaskan pada awalnya memang ada wacana untuk menyambung kabel langsung dari Desa Mepar ke Daik. Namun, karena kondisi geografis yang tidak memungkinkan wacana tersebut tidak dilanjutkan.

"Karena kondisi yang tidak memungkinkan maka kita batalkan wacana tersebut," ungkapnya.

Ia menambahkan, mesin yang saat ini dikirim dari Tanjungpinang sangat memadai bagi pelayanan listrik di Desa Mepar. Jadi tidak perlu harus menyambung kabel ke Daik.

"Mesin yang baru ini kapasitasnya lebih besar. Apalagi nanti akan dibangun Sekola Rakyat jadi memang butuh mesin dengan kapasitas yang besar. Makanya mesin baru ini kita kirim yang lebih besar," tambahnya.

Suheri berharap dengan adanya pergantian mesin baru yang memiliki daya lebih besar dapat memaksimalkan pelayanan listrik di Desa Mepar.

"Kalau untuk pelayanan listrik 24 jam kita masih dalam tahap pengusulan," pungkasnya. (*)

Editor : Chahaya Simanjuntak
#lingga #PLN Lingga #mati lampu #Layanan Listrik #Desa Mepar Gelap Gulita