batampos - Dunia akademik internasional berduka atas wafatnya filsuf dan sosiolog terkemuka asal Jerman, Jürgen Habermas, yang meninggal dunia pada Sabtu (14/3) dalam usia 96 tahun.
Kabar tersebut dikonfirmasi oleh penerbitnya dan dilaporkan oleh sejumlah media internasional.
Profil Singkat dan Perjalanan Kariernya
Habermas lahir di Düsseldorf, Jerman pada 18 Juni 1929.
Ia tumbuh pada masa runtuhnya rezim Nazi dan pengalaman tersebut sangat memengaruhi pemikirannya tentang demokrasi, tanggung jawab sejarah, dan pentingnya dialog publik dalam masyarakat modern.
Ia kemudian belajar filsafat, sejarah, psikologi, dan ekonomi di beberapa universitas Jerman sebelum meraih gelar doktor pada awal 1950-an.
Habermas kemudian bekerja di Institut für Sozialforschung di Frankfurt, pusat dari Frankfurt School, dan berkolaborasi dengan tokoh seperti Theodor W. Adorno.
Di periode ini ia mengembangkan gagasan tentang “public sphere” atau ruang publik, yaitu ruang diskusi rasional di mana masyarakat dapat membahas isu politik secara bebas dan demokratis.
Karya paling berpengaruh Habermas adalah “The Theory of Communicative Action” (1981).
Ia menjelaskan bahwa masyarakat modern dapat mencapai kesepakatan melalui komunikasi rasional dan dialog terbuka bukan melalui kekuasaan atau paksaan.
Teori tersebut kemudian menjadi dasar bagi konsep demokrasi deliberatif, yaitu model demokrasi yang menekankan diskusi publik yang rasional dalam pengambilan keputusan politik.
Jürgen Habermas dikenal sebagai intelektual publik yang aktif dalam perdebatan politik dan sosial di Jerman.
Ia terlibat dalam berbagai diskusi penting tentang sejarah Nazi, integrasi Uni Eropa, serta masa depan demokrasi di Eropa.
Para pemimpin Jerman dan komunitas akademik internasional menyampaikan penghormatan atas kontribusinya terhadap filsafat dan demokrasi modern.
Jürgen Habermas merupakan salah satu filsuf paling berpengaruh pada abad ke-20 dan awal abad ke-21.(*)
Editor : Juliana Belence