Sudah 2 Tahun Tak Aktif, Selama dua tahun terakhir, tidak ada lagi kapal perintis yang melayani rute tersebut, membuat mobilitas dan distribusi barang masyarakat menjadi terganggu.
Keluhan itu disampaikan warga karena kapal perintis merupakan moda transportasi laut yang terjangkau dan mampu membawa logistik dalam jumlah besar, berbeda dengan kapal cepat yang tarifnya dinilai lebih mahal dan kapasitasnya terbatas.
“Kami sangat berharap kapal perintis dari Tanjungpinang atau Kijang bisa kembali aktif. Selama dua tahun ini kami kesulitan, terutama saat ingin mengangkut barang banyak ke Anambas. Kalau pakai kapal cepat, selain mahal, tidak bisa bawa banyak,” kata Pinni, warga Desa Air Asuk, Rabu, (16/7).
Ia mengatakan, sebelum vakum, rute kapal perintis ini terakhir dilayani oleh KM Sabuk Nusantara 83. Kapal ini menjadi andalan masyarakat karena singgah ke banyak desa di pulau-pulau terpencil hingga ke Natuna dan Pontianak.
"Sekarang memang masih ada kapal perintis yang melayani Anambas. Tapi kan dia datang dari Pontianak terus ke Kijang. Dia mutar ke Tambelan balik lagi ke Pontianak," terang Pinni.
Hal ini lah, kata dia, yang membuat masyarakat susah, karena kapal perintis tidak melayani rute dari Kijang atau Tanjungpinang ke Anambas.
Kondisi ini juga berdampak pada harga kebutuhan pokok yang ikut naik akibat biaya distribusi yang tinggi.
“Bahan sembako sekarang mahal karena biaya angkut naik. Kalau ada kapal perintis, biaya lebih murah, dan harga di kampung juga bisa stabil,” tambahnya.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Anambas bersama Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau segera berkoordinasi untuk mengaktifkan kembali trayek tersebut.
“Kami butuh kejelasan. Rute ini penting untuk masyarakat desa. Jangan sampai transportasi laut terjangkau justru dibiarkan kosong begitu saja,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Anambas, Nurullah menegaskan pihaknya telah berulang kali mengajukan permohonan rute kapal perintis dari Kijang atau Tanjungpinang ke Kementrian Perhubungan (Kemenhub).
"Setiap tahun kami ada rapat dari Kemenhub mengenai rute kapal perintis. Tapi belum juga dikabulkan," ujar Nurullah.
Berdasarkan hasil kordinasi, Kemenhub menilai Kabupaten Anambas untuk saat ini telah cukup dilayani sejumlah kapal, baik kapal ferry maupun kapal Roro dan KM Bukit Raya.
"Mungkin itu alasan mereka belum mengakomodir. Tapi bagi kami rute ini sangat penting. Karena harga terjangkau juga. Kami akan terus coba usulkan sampai rute ini direalisasi," pungkas Nurullah. (*)
Editor : Tunggul Manurung