batampos - Minggu pagi (24/8), lapangan sepak bola di Kelurahan Letung, Kecamatan Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas, tampak penuh sorak-sorai.
Warga dari berbagai desa berbondong-bondong datang menyaksikan Turnamen Sepak Bola Antar Kampung (Tarkam) yang digelar untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia.
Namun ada momen tak biasa yang membuat suasana semakin meriah. Seorang pemuda asing berwajah Eropa, Simon (25), tiba-tiba ikut masuk ke lapangan. Ia adalah wisatawan asal Italia yang baru sehari menjejakkan kaki di Jemaja.
Awalnya, Simon hanya ingin menonton pertandingan. Tapi semangat warga dan suasana hangat di sekitar lapangan membuatnya tak tahan.
Dengan penuh antusias, ia meminta izin kepada panitia untuk ikut bermain. Tak disangka, panitia menyambutnya dengan tangan terbuka.
Bukan sembarang wisatawan, Simon rupanya pernah menimba ilmu sepak bola di akademi Napoli, klub besar di Serie A Italia.
Ia pun diarahkan untuk bergabung dengan tim asal Desa Rewak, KTTH United, yang saat itu sedang melawan KTRB FC dari Desa Bukit Padi.
Dengan wajah berbinar, Simon mengenakan jersey bernomor punggung 3. Begitu masuk sebagai pemain pengganti pada 10 menit terakhir babak pertama, penonton langsung heboh. Semua mata tertuju padanya.
Hanya dalam waktu singkat, Simon menunjukkan kelasnya. Ia mampu menguasai bola dengan tenang, lalu melepaskan tendangan keras yang menjebol gawang lawan.
Skor berubah menjadi 1-0. Sorakan warga pun membahana, sebagian tak percaya seorang bule benar-benar mencetak gol di tarkam mereka.
Namun keunggulan itu tak bertahan lama. KTRB FC berhasil menyamakan kedudukan hingga pertandingan berakhir 1-1 dan dilanjutkan dengan adu penalti. Pada akhirnya, KTRB FC Bukit Padi keluar sebagai pemenang dengan skor 3-1.
Baca Juga: Pengendara Scoopy Tewas Ditabrak Mobil di Jalan Sudirman, Legenda Malaka
Meski kalah, wajah Simon tetap berseri-seri. Ia tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
“Saya senang sekali bermain bola di sini. Masyarakat sangat ramah dan selalu menyemangati saya. Luar biasa,” ujarnya.
Simon mengaku, awalnya ia hanya ingin berlibur dan menikmati suasana Jemaja. Namun siapa sangka liburannya justru menghadirkan pengalaman tak terlupakan.
“Saya benar-benar surprise bisa ikut bermain. Rasanya seperti jadi bagian dari keluarga di sini,” tambahnya haru.
Bagi warga Jemaja, kehadiran Simon menjadi cerita istimewa. Kepala Desa Rewak, Deva Syahputra, menilai pengalaman ini bisa menjadi magnet tersendiri untuk pariwisata Anambas.
“Kami sangat senang beliau mau bergabung. Semoga dengan kehadiran wisatawan seperti Simon, akan semakin banyak orang yang datang berkunjung ke Pulau Jemaja,” kata Deva.
Ia menambahkan, jika ke depan wisatawan bisa diajak untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat, entah lewat sepak bola, budaya, atau kegiatan desa lainnya, maka Jemaja akan semakin dikenal dunia.
“Inilah daya tarik kita, kebersamaan dan keramahan yang tulus,” ujar Deva.
Hari ini, Tarkam di Jemaja bukan sekadar soal menang atau kalah. Ia menjadi bukti bahwa sepak bola adalah bahasa universal yang mampu menyatukan siapa saja, bahkan seorang bule Italia dan warga kampung di ujung Anambas.
Dan di lapangan sederhana yang penuh semangat itu, Simon menemukan kebahagiaan, diterima, disemangati, dan dianggap bagian dari keluarga besar Jemaja. (*)
Editor : Tunggul Manurung