Belajar Sejarah dari Benda yang Tak Lagi Bersuara, Pelajar SD 007 Sedak Kunjungi Museum Perbatasan Tiangau
Ihsan Imaduddin• Rabu, 4 Februari 2026 | 22:54 WIB
Pelajar SD Negeri 007 Sedak mengabadikan momen Bung Hatta kunjungan kerja di Jemaja dengan kamera smartphonenya. F Ihsan Imaduddin/Batam Pos
Batampos – Derap langkah kecil para pelajar SD Negeri 007 Sedak terhenti sesaat ketika pintu Museum Perbatasan Tiangau terbuka. Di hadapan mereka, sejarah tidak lagi berupa tulisan di papan tulis, melainkan hadir nyata melalui benda-benda lama yang menyimpan kisah panjang masa lalu.
Kunjungan edukatif ke Museum Perbatasan Tiangau, menjadi pengalaman berharga bagi para siswa, Rabu (4/2/2026) siang tadi.
Wajah polos mereka memancarkan rasa kagum dan penasaran saat menyaksikan langsung koleksi peninggalan sejarah yang selama ini hanya mereka kenal lewat buku pelajaran.
Begitu memasuki ruang utama museum, anak-anak tampak berkerumun. Ada yang berjinjit agar bisa melihat lebih jelas, ada pula yang saling berbisik sambil menunjuk benda-benda tua yang asing di mata mereka. Suasana museum yang biasanya sunyi berubah menjadi hidup oleh suara decak kagum para pelajar.
Benda peninggalan masa penjajahan Belanda menjadi daya tarik utama. Anak-anak terpaku pada peralatan lama yang digunakan pada masa kolonial, membayangkan kehidupan masyarakat pada zaman tersebut.
Tak kalah menarik perhatian adalah deretan foto kunjungan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Muhammad Hatta, ke Jemaja. Foto hitam putih itu menjadi jendela waktu yang membawa siswa melihat langsung jejak sejarah bangsa di tanah Anambas.
“Begini ya museum itu. Baru tau juga kalau Pak Hatta pernah ke tempat kita,” ujar Hanafi, salah satu pelajar, dengan logat Melayu yang kental.
Mesin tik tua juga menjadi pusat perhatian. Anak-anak menebak-nebak fungsi benda tersebut, membandingkannya dengan gawai modern yang mereka kenal sehari-hari.
“Senang bisa datang ke museum walaupun harus nyebrang pakai motor laut. Cuacanya juga bagus,” kata Hanafi polos.
Bagi para siswa, perjalanan menggunakan pompong dan pengalaman belajar di luar kelas ini menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Mereka pulang tidak hanya membawa foto, tetapi juga rasa bangga dan kesadaran bahwa sejarah hidup di sekitar mereka. (*)