Batampos - Cuaca di Kabupaten Kepulauan Anambas dalam sebulan terakhir mulai menunjukkan perubahan signifikan dengan masuknya periode musim kemarau. Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya suhu udara yang terasa panas dan terik, terutama pada siang hari.
Warga di sejumlah wilayah merasakan sengatan matahari yang lebih kuat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Aktivitas di luar ruangan pun menjadi lebih terbatas, terutama pada pukul 11.00 hingga 15.00 WIB saat suhu mencapai puncaknya.
Selain suhu yang meningkat, kondisi lingkungan juga mulai mengalami kekeringan. Tanah di beberapa lokasi terlihat retak, dan vegetasi seperti rumput serta tanaman liar mulai menguning akibat minimnya curah hujan.
Kondisi ini terjadi karena dalam beberapa pekan terakhir hampir tidak ada hujan deras yang mengguyur wilayah Anambas. Kalaupun turun hujan, intensitasnya sangat ringan dan berlangsung dalam waktu singkat.
Prakirawan BMKG Tarempa, Sony, mengatakan suhu udara di Anambas saat ini cukup tinggi dan curah hujan sangat minim. “Suhu maksimal 32 derajat celcius. Hujan tidak ada turun, ada sih tapi durasi paling lama 5-10 menit,” ujarnya saat dijumpai, Senin (30/3/2026).
Baca Juga: Pemprov Kepri Bantu Salurkan Air Bersih Bagi Warga Terdampak Kekeringan di Bintan
Ia menjelaskan, kondisi ini merupakan bagian dari siklus musim kemarau yang memang rutin terjadi di wilayah tersebut setiap tahun. Anambas diketahui memiliki dua periode kemarau dalam satu tahun.
Menurut Sony, musim kemarau pertama berlangsung sejak Februari hingga akhir April. Setelah itu, wilayah Anambas diperkirakan akan kembali memasuki musim hujan.
“Kalau tidak ada perubahan signifikan, hujan akan mulai turun pada akhir April hingga awal Juli,” jelasnya.
Namun demikian, masyarakat diminta tidak lengah terhadap perubahan cuaca yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Pasalnya, dinamika atmosfer saat ini cukup fluktuatif.
Sony juga mengingatkan adanya potensi fenomena El Nino yang disebut sebagai “El Nino Godzilla” yang perlu diwaspadai. Fenomena ini diperkirakan akan terjadi pada musim kemarau kedua, yakni sekitar Agustus mendatang.
El Nino Godzilla merupakan istilah untuk menggambarkan El Nino dengan intensitas sangat kuat. Fenomena ini terjadi akibat pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak luas terhadap pola cuaca global.
Akibatnya, wilayah seperti Indonesia berpotensi mengalami kemarau yang lebih panjang dan ekstrem dibandingkan biasanya. Dampak yang ditimbulkan antara lain berkurangnya curah hujan secara drastis hingga berpotensi menyebabkan kekeringan.
Baca Juga: Nelayan Pulau Numbing Tolak Sedimentasi Pasir Laut, Kenapa?
Kondisi tersebut juga bisa berdampak pada ketersediaan air bersih, pertanian, hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Untuk itu, BMKG Tarempa mengimbau masyarakat agar mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini. Warga diminta untuk bijak dalam menggunakan air, terutama di daerah yang mulai mengalami keterbatasan sumber air.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, serta selalu waspada terhadap potensi kebakaran yang mudah terjadi di kondisi cuaca kering.
BMKG juga menyarankan agar masyarakat rutin memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi, sehingga dapat menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan kondisi cuaca yang sedang berlangsung. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak