Batampos- Workshop Inisiasi Pembangunan Integrated Area Development (IAD) berbasis perhutanan sosial digelar di Kabupaten Kepulauan Anambas. Kegiatan ini mendorong arah pembangunan kehutanan yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Wakil Bupati Kepulauan Anambas, Raja Bayu Febri Gunadian, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menyatukan berbagai pihak dalam mengelola potensi daerah.
“Workshop ini penting sebagai langkah awal memperkuat pembangunan kehutanan yang berkelanjutan di Anambas,” ujar Raja Bayu, Selasa, (28/4/2026).
Baca Juga: Kualitas Hidup Warga Kepri Diklaim Terus Meningkat, IPM Tembus 80,53
Ia menjelaskan, pendekatan IAD yang digunakan tidak hanya melihat satu sektor, tetapi menggabungkan berbagai potensi dari hulu hingga hilir.
“Pendekatan ini mengintegrasikan pembangunan dari hulu sampai hilir, sehingga hasilnya bisa lebih terasa bagi masyarakat,” jelasnya.
Menurut Raja Bayu, perhutanan sosial tidak hanya berbicara soal menjaga lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.
“Perhutanan sosial juga bisa membuka akses ekonomi dan meningkatkan kemandirian masyarakat,” katanya.
Ia menilai, Anambas memiliki keunggulan tersendiri karena wilayahnya terdiri dari daratan dan kawasan laut yang saling terhubung.
Kondisi tersebut dinilai cocok untuk pengembangan model pembangunan terpadu yang inovatif dan berkelanjutan.
Baca Juga: Enola Holmes 3 Resmi Tayang 1 Juli 2026, Netflix Rilis Teaser Undangan Unik
Melalui kegiatan ini, pemerintah daerah mendorong keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi hingga masyarakat.
“Saya berharap semua pihak bisa duduk bersama dan menyusun strategi yang tepat untuk pembangunan daerah,” ucapnya.
Ia juga menekankan agar hasil diskusi dalam workshop tidak berhenti sebagai wacana semata. “Hasilnya harus konkret dan bisa langsung dijalankan secara berkelanjutan,” tegasnya.
Selain membahas pembangunan, Raja Bayu juga menyinggung pentingnya menjaga kawasan hutan di Anambas.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah objek wisata bunga Rafflesia di Desa Tarempa Selatan yang dinilai memiliki potensi besar.
“Kawasan hutan, termasuk lokasi Rafflesia di Tarempa Selatan, harus dijaga dengan baik,” ujarnya.
Ia mengingatkan agar tidak terjadi kesalahan dalam pengelolaan hutan, terutama praktik penebangan liar yang dapat merusak ekosistem. “Jangan sampai ada penebangan liar yang merusak kawasan tersebut,” tegasnya. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak