Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

UMKM Terjepit, Harga Plastik Meroket Akibat Gejolak Global

Muhammad Syaban • Rabu, 8 April 2026 | 13:31 WIB
Ilustrasi. Dagangan pelaku UMKM yang berjualan di sekitar sport Hall Tumenggung Abdul Jamal. f.belence
Ilustrasi. Dagangan pelaku UMKM yang berjualan di sekitar sport Hall Tumenggung Abdul Jamal. f.belence

batampos – Gejolak di Timur Tengah mulai merambat ke sektor riil. Tak hanya berdampak pada energi, krisis yang memanas di kawasan tersebut kini turut menekan harga bahan baku plastik global, dan imbasnya mulai dirasakan pelaku usaha di Batam.

Kenaikan harga bahan baku plastik impor mendorong harga produk plastik di pasaran ikut naik. Hampir seluruh jenis kemasan plastik mengalami kenaikan harga.

Irman, pemilik kios di kawasan Batam Center, mengaku lonjakan harga plastik sudah terasa signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, kenaikannya mencapai 30 hingga 80 persen, tergantung jenis plastik.

Ia menyebut, kenaikan paling mencolok terjadi pada plastik kresek polos yang umum digunakan pedagang. “Harga plastik kresek per pak sekarang jadi Rp15 ribu, padahal sebelumnya sekitar Rp5 ribu,” ujarnya, Selasa (7/4).

Selain itu, plastik kemasan ukuran sedang yang biasa digunakan untuk membungkus makanan atau barang belanjaan juga mengalami kenaikan. Jika sebelumnya dijual sekitar Rp30 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp45 ribu per kilogram.

Menurut Irman, kenaikan juga terjadi pada sejumlah jenis plastik lain seperti plastik bening (PP/PE) dan plastik tebal untuk kemasan yang banyak digunakan pelaku usaha kecil.

“Tidak semua merek naik dengan persentase yang sama, tapi hampir semua jenis plastik mengalami penyesuaian harga. Mau tidak mau kami harus ikut menyesuaikan,” katanya.

Pakar ekonomi Batam sekaligus dosen ekonomi, Suyono Saputra, menilai kondisi ini mulai memberi tekanan, terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergantung pada plastik sebagai kemasan utama.

Ia menjelaskan, salah satu turunan minyak mentah yang menjadi bahan baku utama plastik adalah nafta.

“Itu bahan baku yang esensial untuk plastik. Sejak Selat Hormuz terganggu, pasokan global cenderung menurun dan menimbulkan keresahan bagi industri plastik dunia, termasuk Indonesia,” ujarnya, Selasa (6/4).

Menurutnya, selama ketegangan di kawasan tersebut belum mereda, dampaknya akan terus menjalar ke berbagai sektor yang menggunakan plastik sebagai komponen utama.

“Akibatnya, harga plastik di tingkat ritel berpotensi terus meningkat,” jelasnya.

Di Batam, dampak tersebut sudah mulai dirasakan. Sejumlah pelaku UMKM mengaku harus menghadapi kenaikan harga bahan kemasan.

“Harga sudah naik, baik di distributor maupun eceran. Mau tidak mau pelaku UMKM akan menaikkan harga jual produknya,” tambahnya.

Kenaikan ini tidak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga berpotensi menekan daya beli masyarakat. Ketika harga kemasan naik, pelaku usaha memiliki pilihan terbatas selain menyesuaikan harga jual.

Lebih jauh, Suyono mengingatkan potensi dampak yang lebih besar jika kondisi global tidak segera membaik, termasuk risiko terganggunya pasokan.

“Kalau kondisi ini tidak segera selesai, bukan hanya harga plastik yang naik. Pasokannya bisa terganggu, bahkan produksi menjadi terbatas,” katanya.

Dalam situasi tersebut, hukum pasar akan berlaku: ketika produksi terbatas sementara permintaan tetap tinggi, harga akan melonjak tajam.

“Kalau produksi terbatas dan kebutuhan masih tinggi, harga bisa naik drastis. Ini yang dikhawatirkan akan semakin membebani pelaku usaha,” tegasnya. (*)

Editor : Jamil Qasim
#UMKM Terjepit #Gejolak Global #Harga Plastik