batampos – Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Dexlite dan Pertamina Dex mulai memicu kekhawatiran di Kota Batam. Kenaikan signifikan ini dinilai berpotensi menekan sektor logistik dan berdampak langsung pada harga kebutuhan pokok masyarakat.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan pemerintah tidak ingin dampak kenaikan harga BBM meluas tanpa langkah antisipasi.
Karena itu, dalam waktu dekat Pemko Batam akan membuka dialog bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Pertamina untuk membahas dampaknya terhadap distribusi barang.
Baca Juga: Tarif Naik, Rute Terganggu, Pariwisata Kepri Hadapi Tekanan Global
“Kita akan buka dialog bersama Disperindag dan Pertamina terkait kenaikan BBM,” ujar Amsakar, Selasa (21/4).
Menurutnya, forum tersebut juga akan melibatkan pelaku usaha logistik agar pemerintah mendapatkan gambaran riil kondisi di lapangan sekaligus merumuskan solusi bersama.
Salah satu pihak yang akan dilibatkan adalah Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), mengingat sektor ini menjadi yang paling terdampak akibat lonjakan harga solar nonsubsidi.
Kenaikan harga BBM terbilang drastis. Pertamina Dex melonjak dari Rp14.800 menjadi Rp24.000 per liter, sementara Dexlite naik dari Rp14.500 menjadi Rp24.150 per liter. Lonjakan hampir dua kali lipat ini membuat biaya operasional distribusi ikut membengkak.
Ketua DPC ALFI Batam, Yasser Hadeka Daniel, mengatakan pelaku usaha sebenarnya telah berupaya menahan kenaikan tarif agar tidak membebani masyarakat. Namun kondisi saat ini dinilai sudah sulit dipertahankan.
Baca Juga: ASN Batam WFH Setiap Jumat, Amsakar: Pelayanan Publik Tetap Prioritas
“Kami sudah berusaha tidak menaikkan harga, karena dampaknya langsung ke masyarakat. Tapi beban operasional sekarang sangat berat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebagian besar kebutuhan Batam masih bergantung pada pasokan dari luar daerah seperti Jakarta dan Belawan, serta impor dari Singapura. Kondisi ini membuat perubahan harga BBM sangat berpengaruh terhadap biaya logistik.
Sebagai gambaran, ongkos angkut rute Batuampar–Mukakuning yang sebelumnya sekitar Rp900 ribu per perjalanan kini melonjak menjadi Rp1,8 juta.
Meski berbagai langkah efisiensi telah dilakukan, pelaku usaha menilai biaya operasional tidak lagi bisa ditekan. ALFI pun memberikan kelonggaran kepada anggotanya untuk menyesuaikan tarif distribusi.
Baca Juga: Satu Calon Jamaah Haji Asal Karimun Ditemukan Tewas Gantung Diri
Dalam jangka pendek, kenaikan BBM akan berdampak pada ongkos distribusi. Namun dalam jangka panjang, masyarakat berpotensi menghadapi kenaikan harga sembako dan kebutuhan pokok lainnya.
Tekanan biaya juga datang dari sektor pelayaran. Kenaikan tarif kapal pandu tunda diperkirakan akan semakin menambah beban logistik di Batam. (*)
Editor : M Tahang