Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr Didi Kusmarjadi, menegaskan bahwa kanker serviks bukan penyakit yang muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang akibat infeksi virus yang berlangsung lama tanpa disadari.
“Yang berbahaya dari kanker serviks bukan hanya penyakitnya, tetapi keterlambatan kita menyadarinya. Banyak kasus ditemukan saat sudah stadium lanjut,” ujar dr Didi, Senin (20/4).
Ia menjelaskan, penyebab utama kanker serviks adalah infeksi Human Papillomavirus (HPV), virus yang umum terjadi dan kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
“Tidak ada rasa sakit, tidak ada tanda awal. Tiba-tiba saat diperiksa sudah parah. Ini yang harus kita ubah pola pikirnya,” katanya.
Menurut dr Didi, masih banyak perempuan yang menunda pencegahan dengan berbagai alasan, seperti merasa masih sehat, belum menikah, atau menganggap vaksin belum diperlukan.
Padahal, lanjutnya, vaksin HPV justru paling efektif diberikan sebelum seseorang terpapar virus tersebut.
“Vaksin HPV paling efektif diberikan sebelum terpapar virus. Tapi bukan berarti yang sudah menikah tidak perlu, tetap bermanfaat,” tegasnya.
Ia menambahkan, upaya pencegahan jauh lebih ringan dan murah dibandingkan pengobatan kanker yang membutuhkan biaya besar serta berdampak pada kualitas hidup pasien.
Saat ini, Indonesia telah memiliki vaksin HPV produksi dalam negeri yang lebih mudah diakses masyarakat. Vaksin tersebut melindungi dari HPV tipe 16 dan 18 yang menjadi penyebab utama kanker serviks, serta tipe 6 dan 11 yang menyebabkan kutil kelamin.
“Ini menjadi peluang besar untuk meningkatkan cakupan imunisasi. Teknologinya aman dan efektivitasnya tinggi dalam mencegah lesi prakanker,” jelasnya.
Upaya ini juga sejalan dengan program Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) melalui inisiatif SPRIN (Selamatkan Perempuan Indonesia), yang mendorong perlindungan kesehatan perempuan sejak usia muda hingga lanjut usia.
Dr Didi menekankan bahwa pencegahan kanker serviks bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan keluarga.
“Ini tentang ibu yang tetap mendampingi anaknya, tentang perempuan yang tetap sehat untuk keluarganya,” ujarnya.
Ia mengimbau perempuan di Batam agar tidak menunda langkah pencegahan.
“Jangan tunggu gejala. Jangan tunggu sakit. Karena saat gejala muncul, sering kali sudah terlambat,” katanya.
dr Didi menegaskan, vaksin HPV bukan sekadar imunisasi, melainkan investasi kesehatan jangka panjang.
“Kita punya pilihan hari ini: mencegah atau menyesal kemudian. Dan keputusan itu ada di tangan kita sendiri,” tutupnya. (*)
Editor : Putut Ariyotejo