Kepala Dinas Perikanan Kota Batam, Yudi Admajianto, mengatakan strategi ini dipilih karena tantangan terbesar selama ini justru berada pada kelompok anak-anak yang cenderung kurang menyukai ikan.
“Sosialisasi Gemarikan sebelumnya banyak menyasar ibu-ibu. Namun kami melihat, yang paling sulit mengonsumsi ikan adalah anak-anak. Karena itu, kini edukasi difokuskan langsung kepada mereka,” ujarnya, Rabu. (6/5)
Sebanyak 211 siswa kelas 3 SDN 010 Batam mengikuti kegiatan tersebut. Dalam pelaksanaannya, Dinas Perikanan menghadirkan pendongeng dari Rumah Dongeng Indonesia wilayah Kepri.
Melalui cerita interaktif, para siswa diperkenalkan pada manfaat konsumsi ikan, termasuk kandungan protein dan omega-3 yang berperan penting dalam perkembangan otak anak.
“Dengan pendekatan dongeng, anak-anak lebih mudah memahami pentingnya makan ikan. Harapannya, mereka juga terdorong untuk meminta orang tua menyediakan menu ikan di rumah,” kata Yudi.
Selain sesi dongeng, kegiatan turut diisi dengan kuis edukatif, bernyanyi bersama, hingga makan bersama dengan menu berbahan dasar ikan.
Kepala Bidang Penguatan Daya Saing Produk Perikanan (PDSPP) Dinas Perikanan Batam, Ute Rambe, menambahkan bahwa metode dongeng dinilai lebih komunikatif dan sesuai dengan karakter anak-anak.
“Metode ini interaktif dan mudah dicerna, sehingga anak-anak dapat memahami pentingnya konsumsi ikan sejak dini,” ujarnya.
Program ini juga selaras dengan kebijakan nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mendorong konsumsi ikan minimal dua hingga tiga kali dalam sepekan.
“Setidaknya dua sampai tiga kali seminggu anak mengonsumsi ikan. Selain mendukung kecerdasan, hal ini juga berdampak pada peningkatan kesejahteraan nelayan,” tambah Yudi.
Pada akhir kegiatan, peserta mendapatkan bingkisan berupa abon ikan hasil olahan UMKM lokal sebagai bagian dari edukasi produk perikanan.
Ke depan, program Gemarikan berbasis dongeng ini direncanakan digelar sebanyak sembilan kali di sembilan kecamatan di Batam. Fokus utama diarahkan pada wilayah perkotaan, mengingat anak-anak di daerah hinterland dinilai sudah terbiasa mengonsumsi ikan.
“Kami prioritaskan wilayah perkotaan karena anak-anak di pulau penyangga umumnya sudah terbiasa makan ikan. Tantangan terbesar ada di kota,” tutupnya. (*)
Editor : Putut Ariyotejo