batampos — Panggung budaya Melayu kembali hidup di Kota Batam melalui gelaran Jelang Kenduri Seni Melayu (KSM) 2026 yang berlangsung di Lapangan Bola Tanjung Uma, Lubuk Baja, pada 15–16 Mei 2026.
Mengusung tema “Menyemai Benih Budaya, Memetik Ranai Peradaban”, kegiatan tersebut menghadirkan ragam pertunjukan seni tradisi Melayu, mulai dari tari, musik, pantun, puisi, permainan rakyat, hingga kuliner khas Melayu.
Perhelatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya Melayu di tengah pesatnya perkembangan Batam sebagai kota industri dan perdagangan.
KSM Masuk Kalender Event Nasional
Kenduri Seni Melayu bukan agenda baru bagi masyarakat Kepulauan Riau, khususnya Batam. Festival budaya ini telah berlangsung sejak 1999 dan pada 2026 memasuki pelaksanaan ke-27.
Kini, Kenduri Seni Melayu juga telah masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata Republik Indonesia sebagai salah satu event budaya unggulan nasional.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan konsep “Jelang Kenduri” dibuat untuk memberikan ruang lebih luas kepada sanggar seni di tingkat kecamatan.
“Tahun ini kita buat tiga kali Jelang Kenduri. Ini untuk memberikan panggung kepada sanggar-sanggar seni di kecamatan agar tidak hanya tampil di puncak acara karena waktunya terbatas,” ujarnya.
Ruang Pembinaan Seniman Muda
Selain menjadi hiburan masyarakat, Jelang KSM juga berfungsi sebagai ruang pembinaan sekaligus seleksi menuju puncak Kenduri Seni Melayu 2026.
Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Batam, Samson Rambah Pasir, menyebut sanggar terbaik nantinya akan tampil bersama seniman nasional dan internasional.
“Jelang KSM ini adalah panggung pembinaan. Sanggar-sanggar terbaik akan kita pilih untuk tampil di puncak nanti bersama seniman nasional dan internasional,” katanya.
Tari Tradisi hingga Pantun Melayu Meriahkan Panggung
Pada malam pertama, suasana Melayu terasa kuat melalui pertunjukan seni yang melibatkan komunitas seni rupa, penyanyi cilik, hingga sanggar sekolah.
Komunitas Seni Rupa Batam menghadirkan atraksi live painting yang dipimpin perupa Acep Carno, sementara penyanyi cilik Reffrain Nawabil Satridy turut menghangatkan suasana.
Tari Persembahan dari Gazal Madani bersama LAM Kecamatan Lubuk Baja menghadirkan nuansa Melayu klasik melalui gerak tari dan musik tradisional.
Pantun Melayu yang dibawakan Yoan S Nugraha dan Zainal Takdir juga berhasil menghidupkan interaksi dengan penonton.
Sejumlah sanggar sekolah turut menampilkan tarian bertema kehidupan masyarakat pesisir Melayu, seperti:
Tari Tegakkan Pancang – Sanggar Sri Bestari SMAN 23 Batam
Tari Betangas – Sanggar Brianatya SMAN 8 Batam
Geliat Anak Pesisir – Sanggar Tuah Madani SDIT Yayasan Mahabatulhaq
Malam pertama ditutup dengan pertunjukan Musik Dangkung dan Tari Jogi dari Sanggar Pantai Basri.
Generasi Muda Dominasi Malam Kedua
Pada malam kedua, panggung didominasi penampilan generasi muda dengan berbagai karya tari tradisional dan musik Melayu.
Kelompok Desasol membawakan lagu-lagu Melayu era 1960-an, sementara Sanggar Dayang Seribu Purnama SMPN 41 Batam tampil lewat tari “Daya Azimat” yang mengangkat kisah ketangguhan Tun Fatimah dari Melaka.
Sanggar Laila Bersembah SMAN 14 Batam menampilkan Tari Bedagang yang menggambarkan kehidupan pasar dan kuliner di Tanjung Uma.
Adapun Sanggar Putri Bungsu SMPN 28 Batam membawakan:
Tari Kebas
Tari 7 Likor
yang mengangkat tradisi Melayu menjelang Hari Raya.
Selain tari dan musik, pembacaan puisi karya Wali Kota Batam Amsakar Achmad oleh pegiat sastra muda Novi Junaidi Igayana turut menjadi bagian dari pertunjukan budaya tersebut.
Menjaga Identitas Budaya Melayu
Di balik kemeriahan panggung, Jelang Kenduri Seni Melayu membawa misi besar menjaga identitas budaya Melayu agar tetap hidup dan diwariskan lintas generasi.
Anak-anak muda tampil mengenakan busana tradisional Melayu, musisi memainkan irama klasik, seniman melukis budaya di atas kanvas, sementara para penyair merawat bahasa melalui bait-bait puisi.
Masyarakat kini menantikan puncak Kenduri Seni Melayu 2026 yang akan mempertemukan sanggar terbaik Batam dengan seniman dari Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, dan negara rumpun Melayu lainnya.
Editor : Putut Ariyo