Jurnalis Batam Berkumpul, Doakan Delapan Orang yang Hilang di Anak Krakatau

Abdul Azis Maulana • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 11:45 WIB

 

Sejumlah jurnalis dari Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kepri bersama Persatuan Wartawan Indonesia Kepri  (PWI) Kepri dan Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) Batam menggelar doa bersama bagi lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang dan belum diketemukan saat melakukan peliputan erupsi gunung anak Krakatau, doa bersama dilaksanakan di taman Aspirasi Batam Center, Minggu (13/9). F Cecep Mulyana/Batam Pos
Sejumlah jurnalis dari Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kepri bersama Persatuan Wartawan Indonesia Kepri (PWI) Kepri dan Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) Batam menggelar doa bersama bagi lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang dan belum diketemukan saat melakukan peliputan erupsi gunung anak Krakatau, doa bersama dilaksanakan di taman Aspirasi Batam Center, Minggu (13/9). F Cecep Mulyana/Batam Pos

 

batampos - Kabar hilangnya kontak delapan orang dalam rombongan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau menyatukan para jurnalis di Batam. Minggu (13/9) malam, sejumlah jurnalis dari Persatuan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kepulauan Riau, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Batam, dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepri berkumpul di Taman Aspirasi, Batam Kota.

Mereka tidak membawa kamera untuk meliput sebuah peristiwa. Malam itu, para jurnalis datang dengan doa.

Doa bersama digelar sebagai bentuk solidaritas sekaligus dukungan bagi lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hingga kini belum diketahui keberadaannya setelah menjalankan tugas peliputan di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.

Ketua PFI Kepri, Tommy Purniawan, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian sesama jurnalis terhadap rekan-rekan yang tengah menghadapi situasi darurat.

Baca Juga: Nasib 1.025 Pekerja Ghim Li di Ujung Tanda Tanya, Gaji Belum Dibayar dan PHK Membayangi

Ia berharap proses pencarian yang dilakukan tim penyelamat segera membuahkan hasil. Harapan yang sama juga ditujukan kepada keluarga para jurnalis dan kru kapal yang masih menunggu kabar.

“Saya bisa merasakan betapa sedihnya keluarga teman-teman kita yang belum ditemukan hingga saat ini,” kata Tommy.

Bagi Tommy, pekerjaan jurnalistik memang membawa pewarta ke berbagai tempat dan situasi. Tidak jarang, lokasi yang didatangi justru berada di tengah peristiwa yang membahayakan.

Namun, keberanian untuk berada di lapangan, kata dia, semestinya selalu berjalan bersama kesadaran terhadap keselamatan.

“Ketika yang lain menghindari bencana, jurnalis justru mendatangi. Bukan karena kami tidak takut, tapi karena kami ingin mengabarkan informasi terbaru untuk masyarakat,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan salah satu sisi pekerjaan jurnalistik yang jarang terlihat. Ketika bencana terjadi, masyarakat membutuhkan informasi mengenai apa yang sedang berlangsung. Di saat bersamaan, pewarta yang menjalankan tugas harus berhadapan langsung dengan risiko di lapangan.

Karena itu, solidaritas yang dibangun para jurnalis Batam malam itu bukan sekadar doa bagi mereka yang hilang. Ada pesan yang lebih luas: tugas jurnalistik penting, tetapi keselamatan manusia tetap berada di atas segala kepentingan peliputan.

Ketua AJI Batam, Yogi Eka Sahputra, turut menyampaikan dukungan dan doa bagi seluruh anggota rombongan yang belum ditemukan. Ia berharap proses pencarian berjalan maksimal dan seluruh korban dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat.

Menurut Yogi, peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi kalangan pers mengenai pentingnya keselamatan dalam menjalankan tugas jurnalistik, terutama ketika meliput bencana dan situasi berisiko tinggi.

Baca Juga: Kabut Selimuti Batam, PM2.5 Tembus 82,9 Mikrogram

Solidaritas, kata dia, diperlukan bukan hanya ketika kabar buruk datang, tetapi juga untuk menguatkan keluarga dan rekan-rekan yang masih menunggu kepastian.

Lima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut adalah Muhammad Bagus Khoirunnas, pewarta foto Kantor Berita ANTARA Biro Banten; Arie Basuki, pewarta foto senior Merdeka.com; Yudistiro Pranoto, jurnalis iNews; Firdaus Wajidi, jurnalis visual Anadolu Agency; serta Donal Husni, jurnalis lepas.

Mereka menjalankan tugas peliputan di kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau menggunakan sebuah speedboat.

Tiga orang lainnya merupakan kru kapal, yakni Warta selaku kapten atau nakhoda, Surakman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu atau guide.

Hingga doa bersama digelar di Batam, proses pencarian terhadap kedelapan orang tersebut masih dilakukan oleh tim Basarnas.

Bagi para jurnalis yang berkumpul di Taman Aspirasi, kabar mengenai proses pencarian itu terus ditunggu. Tidak ada yang tahu bagaimana akhir perjalanan rombongan tersebut. Yang tersisa malam itu adalah doa, harapan, dan solidaritas.

Di tengah kabar yang belum pasti, para jurnalis Batam menyatukan harapan agar tim pencarian diberi kemudahan, keluarga diberi ketabahan, dan delapan orang yang hilang kontak itu segera ditemukan dalam keadaan selamat. Sebab, di balik profesi sebagai pewarta, ada manusia yang ditunggu kepulangannya. (*)

Editor : Yofi Yuhendri
Anak Krakatau PFI Kepri aji batam jurnalis pwi kepri