Kabut Asap Selimuti Kepri, Sekolah Mulai Beralih ke Rumah

Jamaluddin Lobang • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 09:00 WIB
Asap kiriman menyelimuti wilayah Batam sejak beberapa hari terakhir. Warga yang beraktivitas di luar ruangan, termasuk pengendara motor, dianjurkan mengenakan masker. Foto-foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
(Foto Atas) Pengendara motor di Jalan Lintas Barat melaju di antara kabut yang menyelimuti kawasan Gunung Bintan, Senin (14/9) sore. Foto: Slamet Nofasusanto/Batam Pos
Asap kiriman menyelimuti wilayah Batam sejak beberapa hari terakhir. Warga yang beraktivitas di luar ruangan, termasuk pengendara motor, dianjurkan mengenakan masker. Foto-foto: Cecep Mulyana/Batam Pos (Foto Atas) Pengendara motor di Jalan Lintas Barat melaju di antara kabut yang menyelimuti kawasan Gunung Bintan, Senin (14/9) sore. Foto: Slamet Nofasusanto/Batam Pos

batampos – Kabut asap atau jerebu mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Kepulauan Riau (Kepri). Kondisi tersebut berdampak pada kualitas udara, jarak pandang, hingga aktivitas pendidikan di sejumlah kabupaten/kota.

Di Batam, pemantauan Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim menunjukkan konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 telah masuk kategori tidak sehat pada Senin (14/9) pagi.

Pada pukul 09.00 WIB, konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai 88,7 mikrogram per meter kubik. Sementara jarak pandang di sekitar Bandara Hang Nadim berada di kisaran 2,8 hingga 3 kilometer.

Forecaster Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam mengatakan data tersebut merupakan hasil pemantauan terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Untuk konsentrasi partikulat di Kota Batam ter-update pukul 09.00 WIB sebesar 88,7 µg/m³, masuk ke kategori tidak sehat,” katanya, Senin (14/9).

Kabut juga terlihat secara kasatmata di sejumlah kawasan Batam. Pandangan ke kejauhan tampak memudar, sementara angin bertiup dari arah tenggara dengan kecepatan sekitar 9 hingga 18 kilometer per jam.

BMKG memperkirakan sebaran asap masih berpotensi bertahan selama beberapa jam. Kondisi kualitas udara dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin.

“Untuk kondisi sebaran asap diprediksi masih berlangsung hingga beberapa jam kemudian,” ujar forecaster BMKG tersebut.

Asap dari Sumatra hingga Kalimantan

Kepala BMKG Hang Nadim Batam Ramelan mengatakan kualitas udara Batam turut dipengaruhi asap yang terbawa angin dari sejumlah wilayah di daratan Sumatra.

Berdasarkan pemantauan BMKG, massa asap bergerak mengikuti pola angin hingga mencapai Kepulauan Riau. Citra sebaran asap pada Senin pagi menunjukkan seluruh wilayah Kepri terdampak.

Pola angin di sebagian besar wilayah Indonesia pada pagi hari bergerak dari timur-tenggara menuju barat laut-utara. Di wilayah Kepri, massa asap bergerak ke arah barat laut hingga utara.

Ramelan menyebut konsentrasi PM2.5 di Batam pada pagi hari berada jauh di atas kondisi normal.

“Pagi ini kualitas udara Batam kategori tidak sehat. Hasil konsentrasi partikulat PM2.5 Batam di angka 82,9 mikrogram per meter kubik,” kata Ramelan.

Perbedaan angka 82,9 dan 88,7 mikrogram per meter kubik disebabkan waktu pemantauan yang berbeda. Angka 82,9 µg/m³ merupakan data yang disampaikan Ramelan pada pagi hari, sedangkan angka 88,7 µg/m³ merupakan pemutakhiran pada pukul 09.00 WIB.

Menurut Ramelan, kondisi udara yang tampak semakin keruh pada pagi hari tidak seluruhnya disebabkan asap. Tingginya kelembapan juga berpengaruh terhadap kondisi atmosfer.

“Pada pagi hari udara masih tertahan di permukaan karena adanya kabut akibat udara yang lembap,” ujarnya.

Dalam meteorologi, kondisi tersebut dikenal sebagai haze. Kelembapan tinggi dapat membuat partikel dan uap air tertahan di dekat permukaan sehingga atmosfer terlihat lebih keruh dan jarak pandang berkurang.

Kondisi tersebut diperkirakan berangsur membaik ketika intensitas matahari meningkat dan sirkulasi udara membaik pada siang hari.

Namun, BMKG juga mendeteksi sebaran asap dari sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Bahkan, sebaran transboundary haze terpantau bergerak dari Kalimantan menuju Sarawak, Semenanjung Malaysia, Singapura hingga Vietnam.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa asap dapat terbawa dinamika atmosfer melintasi batas administratif dan negara.

Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Ruang

Ramelan mengatakan konsentrasi PM2.5 dalam kondisi normal berada di bawah 50 mikrogram per meter kubik. Semakin rendah konsentrasi partikulat, semakin baik kualitas udara.

Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara belum membaik. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker.

Pengendara juga diminta meningkatkan kewaspadaan karena kabut dan asap dapat mengurangi jarak pandang. Kecepatan kendaraan sebaiknya dikurangi ketika kondisi pandangan mulai terbatas.

Masyarakat juga perlu terus memantau perkembangan kualitas udara karena perubahan arah dan kecepatan angin dapat membuat konsentrasi partikulat serta jarak pandang berubah dalam waktu singkat.

Dinkes Batam: Dampak Kesehatan Harus Berdasarkan Data

Dinas Kesehatan Kota Batam turut menaruh perhatian terhadap memburuknya kualitas udara. Namun, instansi tersebut belum ingin menyimpulkan dampak kesehatan tanpa didukung data pengukuran.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Angraeni Nawang Wulan mengatakan pihaknya masih menunggu data resmi mengenai tingkat ketebalan asap dan kualitas udara dari instansi terkait.

“Untuk pengukur ketebalan asap di Batam itu kita masih menunggu dari dinas terkait, jadi kita belum bisa bicara secara data,” kata Wulan.

Menurut dia, kabut memang mulai terlihat di sejumlah wilayah Batam. Namun, penilaian mengenai dampaknya terhadap kesehatan masyarakat harus dilakukan berdasarkan hasil pengukuran dan evaluasi.

“Kalau bicara dampak, kita harus melakukan evaluasi melalui data. Jadi kita belum bisa bicara dampak,” ujarnya.

Meski demikian, masyarakat diminta melakukan langkah pencegahan dengan mengurangi atau meminimalkan aktivitas di luar ruangan.

Warga yang terpaksa keluar rumah dianjurkan menggunakan masker. Masyarakat juga diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan jika mengalami keluhan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), sesak napas, mata merah, atau batuk yang tidak kunjung sembuh.

Dinkes juga mengingatkan masyarakat menjaga kondisi tubuh dengan memperbanyak konsumsi air putih serta buah dan sayur.

Kelompok rentan, khususnya anak-anak dan lanjut usia, perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.

Kepri Alihkan Pembelajaran SMA, SMK, dan SLB ke Rumah

Dampak kabut asap mulai merembet ke aktivitas pendidikan.

Pemerintah Provinsi Kepri memutuskan pelajar SMA, SMK, dan SLB beralih dari pembelajaran tatap muka menjadi belajar dari rumah (BDR).

Kebijakan tersebut mulai berlaku Selasa (15/9), bukan Senin, dan dituangkan dalam Surat Edaran Sekretaris Daerah Provinsi Kepri Nomor B/400.3.58/DISDIK-SET/2026.

Kepala Dinas Pendidikan Kepri Andi Agung mengatakan keputusan tersebut diambil setelah kualitas udara menurun akibat sebaran kabut asap yang dinilai berpotensi mengganggu kesehatan peserta didik.

“Pelaksanaan BDR akan berlangsung kondisi kualitas udara kembali membaik dan dinyatakan aman,” kata Andi Agung.

Dalam surat edaran tersebut, penerapan BDR mengacu pada indeks kualitas udara. Untuk SMA dan SMK, BDR diberlakukan ketika indeks kualitas udara berada di atas 100. Sementara untuk SLB, ambang batas yang digunakan di atas 90.

Sekolah diminta menyiapkan skenario pembelajaran dan bahan ajar secara terstruktur dengan mempertimbangkan kondisi serta keterbatasan akses siswa di masing-masing wilayah.

Guru juga diminta aktif berkoordinasi dengan orang tua atau wali murid mengenai perkembangan pembelajaran dan kondisi kesehatan siswa selama BDR.

“Selain itu, presensi atau kehadiran aktivitas belajar murid tetap harus terdokumentasi dengan baik,” ujar Andi Agung.

Orang tua diminta mendampingi anak selama pembelajaran dari rumah. Aktivitas anak di luar rumah atau ruang terbuka juga perlu dibatasi untuk mengurangi paparan kabut asap.

Madrasah di Batam Belum Diliburkan

Kebijakan BDR belum berlaku untuk seluruh jenjang pendidikan di Batam.

Untuk madrasah, Kementerian Agama Kota Batam belum memutuskan untuk meliburkan kegiatan belajar mengajar.

Kepala Kantor Kemenag Kota Batam Budi Dermawan mengatakan pihaknya telah menggelar rapat daring bersama Kepala Seksi Madrasah, Kasubbag Tata Usaha Kemenag Batam, dan para kepala madrasah pada Senin (14/9).

Hasil koordinasi tersebut meminta madrasah mengimbau siswa menggunakan masker selama beraktivitas. Imbauan serupa juga ditujukan kepada orang tua siswa.

“Madrasah sudah mengimbau siswa-siswi untuk memakai masker,” kata Budi kepada Batam Pos.

Hingga Senin, belum ada keputusan untuk meliburkan kegiatan belajar mengajar di madrasah. Kemenag masih berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Batam mengenai langkah selanjutnya.

“Madrasah belum meliburkan anak-anak. Kita akan koordinasi dengan Pemerintah Kota Batam,” ujarnya.

Sementara itu, Dinas Pendidikan Kota Batam belum memberikan keterangan mengenai kebijakan bagi siswa SD dan SMP. Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam Hendri Arulan telah dikonfirmasi, tetapi belum memberikan respons hingga berita ini ditulis.

Bintan Liburkan Sekolah Tiga Hari

Berbeda dengan Batam, Pemerintah Kabupaten Bintan memutuskan meliburkan kegiatan belajar mengajar selama tiga hari akibat kualitas udara yang tidak sehat.

Keputusan tersebut diambil dalam rapat koordinasi di Kantor Bupati Bintan, Bintan Buyu, Senin (14/9). Rapat dipimpin Bupati Bintan Roby Kurniawan dan diikuti Sekda Bintan Ronny Kartika, Dinas Kesehatan, BPBD, DLH, Dinas Pendidikan, kepala sekolah, serta puskesmas se-Kabupaten Bintan.

Roby mengatakan kondisi kabut asap harus ditangani secara cepat dan terukur dengan mengutamakan keselamatan serta kesehatan masyarakat.

“Karena itu, seluruh instansi terkait harus bergerak bersama, melakukan pemantauan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai kondisi di lapangan,” katanya.

Sebagai langkah pencegahan, kegiatan belajar mengajar diliburkan selama tiga hari mulai 15 hingga 17 September 2026.

“Tiga hari ke depan kita gunakan untuk melihat perkembangan kondisi ini. Saya minta seluruh instansi terkait terus melakukan pemantauan, berkoordinasi dan melaporkan perkembangannya, sehingga kita bisa menentukan langkah selanjutnya berdasarkan kondisi yang ada,” tegas Roby.

Kepala Dinas Pendidikan Bintan Nafriyon mengatakan kebijakan belajar dari rumah berlaku untuk jenjang TK, SD, dan SMP.

“Insya Allah akan diberlakukan bagi siswa SD, TK, SMP di Bintan belajar dari rumah mulai besok,” kata Nafriyon.

Kebijakan tersebut merujuk pada data BMKG yang menunjukkan kualitas udara Bintan masuk kategori tidak sehat. Evaluasi akan dilakukan kembali pada Kamis (17/9).

“Nantinya akan dievaluasi lagi pada hari Kamis melihat kondisi kualitas udara yang ada di Bintan,” ujarnya.

Roby juga mengimbau masyarakat tetap tenang, mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker apabila harus keluar rumah, serta mengikuti informasi dan arahan resmi pemerintah.

Pelajar Tanjungpinang Mulai Belajar Daring

Kebijakan serupa diterapkan Pemerintah Kota Tanjungpinang. Pelajar TK, SD, hingga SMP mulai menjalani pembelajaran daring pada Selasa (15/9).

Keputusan tersebut diambil setelah kualitas udara di Tanjungpinang memburuk.

Data IQAir sekitar Senin siang mencatat indeks kualitas udara atau AQI Tanjungpinang berada di angka 121. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah mengatakan pembelajaran daring mulai diberlakukan Selasa.

“Sudah, besok sudah mulai daring untuk TK, SD dan SMP,” kata Lis.

Menurut dia, pembelajaran daring dilakukan untuk mengurangi aktivitas siswa di luar rumah selama kondisi udara belum membaik.

Kebijakan tersebut diperkirakan berlangsung hingga Jumat, tetapi pelaksanaannya tetap menyesuaikan perkembangan kualitas udara.

“Kita tunggu informasi selanjutnya,” tambahnya.

Untuk jenjang SMA dan SMK, Dinas Pendidikan Kepri juga menyiapkan surat edaran dengan mempertimbangkan perkembangan indeks kualitas udara.

“Sore ini kita siapkan SE-nya, kita lihat juga. Jika kondisi udara di atas 100, maka akan kita terapkan, seperti SD dan SMP,” ujar Lis.

Dinas Pendidikan Tanjungpinang juga meminta guru memberikan materi, tugas, dan pendampingan pembelajaran secara proporsional selama sistem daring diterapkan.

“Pelaksanaan pembelajaran akan diberlakukan kembali setelah kondisi dinyatakan aman dan memungkinkan untuk melakukan belajar tatap muka,” kata Kepala Dinas Pendidikan Tanjungpinang Teguh Ahmad Syafari.

Karimun Terdampak Kabut Asap

Kabut asap juga menyelimuti wilayah Karimun. Asap tersebut diduga merupakan kiriman dari kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karimun Ahmadi mengatakan wilayah Karimun masuk dalam sebaran asap berdasarkan laporan forecaster BMKG Raja Haji Abdullah.

“Dalam laporan yang diterima dari BMKG kualitas udara di Karimun tidak sehat pada hari ini, Senin 14 September 2026. Kualitas udara 164 dan konsentrasi PM2,5 sekitar 75,2 µg/m³ sebagai polutan utama,” ujarnya.

Masyarakat yang tidak memiliki keperluan di luar rumah diminta tetap berada di dalam rumah. Warga yang harus beraktivitas di luar juga dianjurkan menggunakan masker.

Anak-anak dan lansia diminta tidak terlalu lama berada di luar ruangan.

Meski kualitas udara menurun, aktivitas pelayaran di perairan Karimun masih berlangsung.

Pelaksana Tugas Kepala KSOP Kelas I Tanjungbalai Karimun Saipul mengatakan jarak pandang kapal yang berlayar masih aman.

“Jarak pandang di luar rata-rata 5 sampai 7 mil. Kondisi jarak pandang ini masih aman. Selain itu, kami juga selalu berkomunikasi dengan kapal-kapal yang berlayar untuk melaporkan situasi di laut. Khususnya, terkait kabut asap. Selain itu, tetap waspada dan berhati-hati di laut,” katanya.

Penerbangan Hang Nadim Masih Normal

Di tengah memburuknya kualitas udara, operasional penerbangan di Bandara Internasional Hang Nadim Batam pada Senin siang masih berjalan normal.

Direktur Utama PT Bandara Internasional Batam (BIB) Annang Setia Budhi mengatakan belum ada gangguan penerbangan akibat kabut asap.

“Sampai siang hari ini, untuk kondisi penerbangan dari dan ke Batam masih lancar dan normal,” kata Annang.

Menurut dia, dalam operasional penerbangan, jarak pandang menjadi salah satu parameter penting yang terus dipantau. PT BIB berkoordinasi dengan AirNav Indonesia dan BMKG untuk memperoleh informasi kondisi cuaca dan jarak pandang di sekitar bandara.

Informasi tersebut kemudian menjadi bahan dalam pengambilan keputusan operasional dan disampaikan kepada pilot sebagai bagian dari pertimbangan keselamatan penerbangan.

“Terkait kabut asap, kondisi tersebut selalu dikoordinasikan dengan AirNav dan BMKG kepada pilot terhadap visibility,” ujarnya.

Hingga Senin, belum ada perubahan jadwal penerbangan di Bandara Hang Nadim yang disebabkan kabut asap. Pesawat yang datang dan berangkat masih beroperasi seperti biasa.

Namun, kondisi kualitas udara dan jarak pandang tetap dipantau karena perubahan arah angin dan kondisi atmosfer dapat memengaruhi situasi dalam waktu singkat.

Kabut asap kini menjadi persoalan lintas wilayah di Kepri. Di Batam, konsentrasi PM2.5 telah masuk kategori tidak sehat. Bintan dan Tanjungpinang mengambil langkah di sektor pendidikan, sementara Karimun juga terdampak sebaran asap.

Bagi masyarakat, langkah paling penting saat kualitas udara memburuk adalah mengurangi paparan, membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker bila harus keluar rumah, serta mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan kualitas udara.

Sementara di sektor transportasi, aktivitas penerbangan dan pelayaran masih berjalan, tetapi kondisi jarak pandang menjadi parameter yang terus dipantau demi keselamatan. (*)

Editor : Putut Ariyo
Kualitas Udara Batam PM2.5 kabut asap Kepri sekolah BDR bmkg