Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Kisah Sariah, Mata yang Tak Melihat Dunia, Tapi Menyimpan Cahaya Surga

Ihsan Imaduddin • Senin, 13 Oktober 2025 | 18:05 WIB

Sari’ah, ibu rumah tangga dari Tarempa Timur yang kehilangan penglihatan sejak usia 11 tahun. Ia menolak transplantasi mata karena takut kehilangan cahaya di akhirat.

***

Sari
Sari

Hujan turun tanpa jeda di Desa Tarempa Timur, Kecamatan Siantan. Rintik air mengguyur atap seng rumah kayu sederhana milik Sari’ah (45).

Di dalam rumah itu, suasana sunyi terasa lebih dalam dari sekadar suara hujan yang jatuh.

Tidak ada sofa, tidak ada meja. Hanya karpet karet yang menutupi lantai kayu yang mulai lapuk.

Di atas karpet itulah Sari’ah duduk bersila, tersenyum menyambut Batam Pos meski matanya tak lagi bisa melihat wajah siapa pun.

Sari’ah adalah seorang ibu rumah tangga yang hidup 34 tahun dalam kegelapan.

Sejak usia 11 tahun, dunia baginya berubah menjadi sunyi dan gelap. Ia tak pernah lagi melihat wajah ibunya, tak tahu warna langit, bahkan tak tahu bagaimana rupa anak-anaknya tumbuh dari kecil hingga dewasa.

“Begini lah rumah kami,” ucapnya pelan, suaranya lembut tapi sarat luka yang sudah lama ia simpan.

“Baru pindah ke sini, di Dusun Antang. Sebelumnya di Butun, depan Antang juga, masih di Tarempa Timur," tambahnya.

Sari’ah kemudian mulai bercerita, perlahan, tentang masa kecilnya yang dipenuhi sakit-sakitan.

Di usia tiga tahun, tubuhnya sering lemah, dan dokter berkata ada gangguan pada saraf otaknya. Namun puncaknya terjadi di umur 11 tahun.

Baca Juga: Dua Mobil Terlibat Tabrakan di Ekang Anculai, Bintan, Bagian Depan Penyok

Saat itu, ia demam tinggi setelah pulang sekolah. Ia hanya meminum obat yang dibeli dari warung kecil di kampung.

Malamnya, ia tertidur pulas karena lelah. Tapi saat terbangun keesokan paginya, dunia yang ia kenal hilang.

“Pas bangun tidur... saya sudah tak bisa lihat apa-apa,” ujarnya lirih. Tak ada air mata yang jatuh, hanya suara serak menahan pedih yang tak bisa lagi dikeluarkan dengan tangisan.

Hari itu, langit yang seharusnya biru menjadi gelap baginya, selamanya.

Namun meski kehilangan penglihatan, Sari’ah tidak pernah kehilangan semangat hidup.

Dengan tangannya yang tak bisa melihat, ia tetap bekerja membuat kerupuk atom dan olahan makanan rumahan.

Ia mengenali bahan-bahan bukan dari warna, tapi dari aroma dan tekstur yang diingatnya.

Suatu ketika, datang tawaran dari salah satu yayasan kesehatan di Indonesia. Dokter bilang, dengan transplantasi mata, kemungkinan Sari’ah bisa melihat lagi.

Harapan yang mungkin bagi orang lain adalah mukjizat terbesar. Tapi bagi Sari’ah, ia menolak.

“Hasil periksa waktu itu, kata dokter, saya bisa lihat kalau ganti mata,” ucapnya. Ia berhenti sejenak, tersenyum getir. “Tapi saya takut nanti disiksa di alam sana, karena mengganti apa yang Allah sudah kasih. Biarlah saya begini. Tak bisa lihat dunia, tapi semoga nanti bisa lihat surga,” lanjutnya.

Kalimat itu mengalir pelan, tapi setiap katanya seperti menusuk dada. Seorang ibu yang memilih buta di dunia, karena takut kehilangan cahaya di akhirat.

Tiga tahun lalu, suaminya, satu-satunya orang yang selalu menggandengnya ke mana pun pergi, berpulang. Sejak itu, Sari’ah hidup menumpang bersama anak sulungnya, Santika.

“Dulu kalau ada suami, almarhum yang bantu masak, bantu buat kerupuk atom. Sekarang anak saya yang bantu. Dia yang jadi mata saya," katanya mengenang.

Suasana hening. Hanya suara hujan yang masih menetes di luar, seperti ikut menangisi perjuangan seorang ibu yang tak pernah menyerah pada takdir.

Meski gelap, hidup Sari’ah dipenuhi cahaya, cahaya ketabahan, keikhlasan, dan cinta yang tulus.

Ia tak pernah mengeluh, bahkan tetap berdoa setiap malam dengan cara yang sama, memohon agar suatu hari nanti, matanya bisa melihat lagi, walau hanya sekali.

“Kadang saya berdoa, semoga Allah kasi keajaiban. Biar saya bisa lihat anak-anak saya, meski sebentar saja. Biar saya tahu wajah mereka,” bisiknya pelan.

Hujan berhenti. Langit Tarempa Timur kembali cerah. Tapi bagi Sari’ah, dunia masih tetap gelap.

Meski begitu, ia percaya, di balik kegelapan yang menutup matanya, ada cahaya surga yang sedang menunggunya, cahaya yang kelak akan ia lihat dengan sempurna. (*)

Editor : Tunggul Manurung
#buta #mata