Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Jepang Terapkan 4 Hari Kerja Tekan Angka Kematian Akibat Kelebihan Kerja, PM Takaichi Justru Gelar Rapat Dini Hari

Chahaya Simanjuntak • Rabu, 19 November 2025 | 12:41 WIB

PM Jepang, Sanae Takaichi
PM Jepang, Sanae Takaichi

Batampos - Jepang menerapkan pekan kerja empat hari guna menekan death by overwork atau kematian akibat kerja berlebih, justru Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi menggelar rapat pukul 3 dini hari. Sungguh ironi.

Dalam hal masa depan dunia kerja, Jepang kini berada posisi tarik-menarik dua arah. Pejabat Tokyo mendorong sistem kerja empat hari sebagai upaya mengurangi budaya kerja ekstrem yang telah lama menjadi masalah, sekaligus menekan angka death by overwork atau yang dikenal dengan karoshi.

Dengan tingkat kelahiran yang menurun dan burnout yang meningkat, banyak pihak melihat perubahan ini bukan sebagai keuntungan tambahan, tetapi kebutuhan demi kelangsungan ekonomi Jepang.

Namun Sanae Takaichi, memberikan sinyal berbeda. Perdana menteri berusia 64 tahun itu menjadi sorotan setelah memanggil staf untuk rapat pukul 3 pagi, bukan karena krisis keamanan nasional, melainkan untuk mempersiapkan diri menghadapi penampilannya di parlemen.

Ia kemudian mengakui bahwa awal rapat yang terlalu dini itu menyebabkan ketidaknyamanan bagi staf, namun tetap membela keputusannya sebagai langkah yang perlu untuk menjawab pertanyaan para anggota parlemen.

Setelah terpilih, Takaichi pernah mengatakan ia akan membuang istilah keseimbangan kerja dan kehidupan bagi dirinya sendiri. "Saya akan bekerja, bekerja, bekerja, bekerja, dan bekerja," ujarnya seperti dikutip dari The New York Times, Selasa (18/11/2025) waktu setempat.

Ini bukan kali pertama Takaichi menunjukkan kenyamanan dengan pola kerja ekstrem. Dia hanya tidur sekitar dua jam per malam, kadang empat jam. Sebuah kebiasaan yang diakuinya mungkin buruk untuk kulitnya.

Meski demikian, di tengah dorongan nasional untuk menumbuhkan ekonomi sekaligus mengurangi tekanan kerja, Takaichi tetap menyatakan ia mendukung kebijakan perlindungan kesehatan pekerja, meskipun ia sendiri tidak menjadi contoh.

"Jika kita dapat menciptakan situasi di mana orang bisa menyeimbangkan pengasuhan anak dan tanggung jawab merawat keluarga sesuai keinginan mereka, serta tetap bisa bekerja, menikmati waktu luang, dan beristirahat. Itu tentu ideal," ujar Takaichi seperti dikutip AFP. (*)

Editor : Chahaya Simanjuntak
#Budaya Kerja Jepang #Pekan Kerja 4 Hari di Jepang #jepang #sanae takaichi