Berdasarkan data dari UPT Damkar Tanjunguban, tercatat 12 kejadian karhutla selama Juli 2025.
Kepala UPT Damkar Tanjunguban, Panyodi melaporkan bahwa telah terjadi 12 kejadian karhutla hingga 24 Juli 2025 atau naik dari 6 kejadian pada Juni 2025.
Dalam sepekan terakhir yaitu 18 hingga 24 Juli 2025 bahkan terdapat 9 kejadian karhutla.
Menurut Panyodi, cuaca panas dan kelalaian manusia menjadi pemicu utama karhutla di wilayah tersebut.
Ia juga mengatakan, berbagai kendala yang dihadapi mereka saat memadamkan api antara lain sulitnya akses mobil ke lokasi titik api, kebakaran yang meluas membuat selang tidak cukup panjang untuk mencapai titik api.
"Sehingga pemadaman dilakukan secara manual atau kita sebut keprok-keprok dengan ranting pohon," katanya, Minggu (27/7/2025).
Selain itu, jarak sumber air yang jauh dari lokasi kebakaran memperlambat proses pemadaman dan angin kencang dapat mempercepat penyebaran api dan membuat pemadaman lebih sulit.
"Ada juga informasi yang tidak akurat tentang lokasi kebakaran sehingga memperlambat proses pemadaman," tambahnya.
Ia meminta kepada masyarakat untuk dapat berperan aktif dalam mencegah karhutla dengan tidak membakar sampah yang dekat dengan semak belukar dan tidak membuka lahan dengan cara dibakar.
"Segera menghubungi Damkar jika melihat api atau mengalami kejadian kebakaran," pungkasnya. (*)
Editor : Tunggul Manurung