Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Rupiah Melemah terhadap Dolar Singapura, Money Changer Batam Belum Panen Transaksi

Rengga Yuliandra • Sabtu, 2 Mei 2026 | 10:31 WIB
Ilustrasi mata uang dolar Singapura dan rupiah Indonesia. F.Chahaya Simanjuntak/Batam Pos
Ilustrasi mata uang dolar Singapura dan rupiah Indonesia. F.Chahaya Simanjuntak/Batam Pos

batampos – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya Dolar Singapura, mulai dirasakan pelaku usaha penukaran valuta asing (valas) di Batam. Namun kondisi tersebut belum diikuti lonjakan transaksi penukaran uang seperti yang kerap terjadi saat kurs bergerak tajam.

Ketua Umum Afiliasi Penukaran Valuta Asing Indonesia (APVA), Amat Tantoso, mengatakan pergerakan rupiah belakangan ini memang mengalami tekanan akibat situasi global yang memanas dan berdampak pada perekonomian dunia.

Menurutnya, ketegangan geopolitik internasional serta kenaikan harga minyak dunia ikut memengaruhi nilai tukar di kawasan Asia, termasuk Indonesia.

“Kalau kita lihat akhir-akhir ini rupiah memang sedikit melemah. Dampaknya terasa karena harga minyak naik dan hampir seluruh negara di Asia juga mengalami kenaikan biaya,” ujarnya di Batam, Jumat (1/5).

Amat menjelaskan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi juga memberi tekanan tambahan terhadap biaya operasional usaha money changer. Kondisi itu membuat pelaku usaha harus lebih berhati-hati menjaga stabilitas usaha di tengah pasar yang belum menentu.

Meski nilai tukar Dolar Singapura terhadap rupiah terus bergerak fluktuatif, hingga kini belum terlihat peningkatan signifikan dalam transaksi penukaran valas di Batam.

Menurut Amat, masyarakat masih memilih menahan diri dan mencermati perkembangan pasar sebelum melakukan transaksi dalam jumlah besar.

“Sampai sekarang belum ada peningkatan signifikan. Masyarakat masih wait and see, melihat situasi dulu,” katanya.

Ia menambahkan, aktivitas penukaran uang di money changer saat ini masih berjalan normal, bahkan cenderung belum seramai periode tertentu seperti musim liburan panjang atau momentum ekonomi khusus.

Jika dibandingkan tahun lalu, tren transaksi tahun ini juga belum menunjukkan kenaikan berarti. Peningkatan hanya terlihat saat akhir pekan ketika arus wisatawan dari Singapura dan Malaysia masuk ke Batam.

“Biasanya kalau akhir pekan lebih ramai karena wisatawan datang. Yang paling banyak ditukar itu Dolar Singapura dan Ringgit Malaysia,” ungkapnya.

Sebagai kota perbatasan dan pintu gerbang internasional, Batam memiliki aktivitas penukaran valas yang cukup tinggi, terutama untuk kebutuhan perjalanan, perdagangan, dan pariwisata.

Namun di tengah ketidakpastian ekonomi global, pelaku usaha money changer masih berharap situasi segera stabil agar transaksi kembali bergairah. (*)

Editor : Jamil Qasim
#rupiah melemah #Money Changer