Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Ekonomi Kuartal I Tembus 5,61 Persen

Abdul Aziz • Rabu, 6 Mei 2026 | 18:51 WIB
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 di Jakarta, Senin (5/5) / F. ANtara
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 di Jakarta, Senin (5/5) / F. ANtara

 

batampos — Mesin ekonomi nasional mulai panas di awal 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/YoY). Angka ini melesat dibanding periode sama tahun lalu yang berada di level 4,87 persen.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menegaskan, akselerasi ini ditopang kuatnya konsumsi domestik dan kinerja industri pengolahan.
“Ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen secara year on year,” ujarnya, kemarin (5/5).

Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor tumbuh positif. Industri pengolahan masih menjadi motor utama dengan kontribusi 1,03 persen, didorong permintaan selama Ramadan dan Idul Fitri serta ekspor CPO dan turunannya.

Perdagangan ikut melaju dengan pertumbuhan 6,26 persen. Sektor pertanian naik 4,97 persen berkat panen raya dan meningkatnya kebutuhan pangan. Lonjakan tertinggi justru datang dari sektor akomodasi dan makan minum yang melesat 13,14 persen. Disusul jasa lainnya 9,91 persen serta transportasi dan pergudangan 8,04 persen.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung ekonomi. Kontribusinya mencapai 54,36 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan pertumbuhan 5,52 persen.

Investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 5,96 persen dengan kontribusi 28,29 persen. Sementara konsumsi pemerintah melonjak tajam hingga 21,81 persen, dipicu belanja pegawai—termasuk gaji ke-14—serta belanja barang dan jasa.

Secara wilayah, pertumbuhan terbilang merata. Pulau Jawa masih mendominasi dengan kontribusi 57,24 persen terhadap PDB, diikuti Sumatera 22,08 persen. Namun, laju tertinggi tercatat di Bali dan Nusa Tenggara yang tumbuh 7,93 persen.

 

Keluar dari “Kutukan” 5 Persen

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai capaian ini sebagai sinyal kuat percepatan ekonomi.

“Sudah terlihat kita mulai lepas dari ‘kutukan’ pertumbuhan 5 persen. Ekonomi bergerak lebih cepat,” ujarnya.

Meski begitu, tantangan global masih membayangi. Pemerintah menyiapkan sejumlah stimulus untuk menjaga momentum, terutama lewat penguatan konsumsi domestik dan sektor industri.

Salah satunya, subsidi kendaraan listrik yang ditargetkan mulai berjalan Juni 2026. Selain mendorong konsumsi, kebijakan ini juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan energi impor.

Di sektor manufaktur, seperti tekstil dan alas kaki, pemerintah menyiapkan pembiayaan murah guna mendukung peremajaan mesin produksi. (*)

Editor : Putut Ariyotejo
#Purbaya Yudhi Sadewa #industri pengolahan #bps #pertumbuhan ekonomi #apbn