Warga RI Simpan 1.800 Ton Emas, Nilainya Tembus Rp4.460 Triliun

Putut Ariyo • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:50 WIB
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (tengah) saat meluncurkan Indonesia Bullion Market Association (IBMA) di Tower BSI, Jakarta, Kamis (20/8). Foto: istimewa
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (tengah) saat meluncurkan Indonesia Bullion Market Association (IBMA) di Tower BSI, Jakarta, Kamis (20/8). Foto: istimewa

batampos – Masyarakat Indonesia diperkirakan menyimpan sekitar 1.800 ton emas secara pribadi dengan nilai mencapai US$252 miliar atau sekitar Rp4.460 triliun. Besarnya kepemilikan emas tersebut dinilai menjadi peluang besar untuk memperkuat ekosistem perdagangan emas atau bullion di dalam negeri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan data tersebut saat memaparkan perkembangan industri bullion atau layanan bank emas di Indonesia.

Menurut Airlangga, satu tahun setelah diresmikan Presiden Prabowo Subianto, layanan bank emas menunjukkan perkembangan positif dan menjadi fondasi penting bagi penguatan ekosistem emas nasional.

Saat ini, bank emas di Indonesia telah mengelola sekitar 177 ton emas. Dari jumlah tersebut, sebanyak 153 ton dikelola Pegadaian, sedangkan 24 ton berada di bawah pengelolaan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Capaian tersebut sebelumnya juga mendapat apresiasi dari Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI pada 14 Agustus 2026.

Presiden menilai keberadaan bank emas merupakan langkah strategis untuk mengamankan aset nasional, memperkuat sistem keuangan, sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.

Penguatan industri bullion juga ditandai dengan berdirinya Indonesia Bullion Market Association (IBMA) pada 18 Agustus 2026.

Organisasi tersebut dibentuk untuk mendorong terciptanya pasar bullion yang lebih kredibel, efisien, transparan, dan berkelanjutan.

Selain menjadi wadah kolaborasi pelaku industri emas dari hulu hingga hilir, IBMA juga diharapkan mampu memperkuat standardisasi industri serta meningkatkan literasi masyarakat mengenai investasi emas.

Airlangga mengatakan pembentukan IBMA menjadi fase baru dalam pengembangan industri bullion nasional setelah fondasi regulasi dan kelembagaan mulai terbentuk.

"Indonesia memiliki potensi emas yang besar. Tantangan kita bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi memastikan emas tersebut dikelola di dalam negeri sehingga menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional," ujar Airlangga.

IBMA beranggotakan berbagai pelaku industri, mulai dari perusahaan pertambangan emas, pengolahan logam mulia, perdagangan emas batangan, perusahaan pembiayaan, lembaga keuangan nonbank, hingga bank bullion.

Sejumlah perusahaan yang telah bergabung antara lain Pegadaian, Bank Syariah Indonesia, PT Hartadinata Abadi Tbk, UBS Gold, PT Amman Mineral Internasional Tbk, Galeri 24, Brinks Solution Indonesia, ICDX Group, PT Central Mega Kencana, PT Sentral Kreasi Kencana, dan PT Laku Emas Indonesia.

Organisasi tersebut dipimpin oleh Selfie Dewiyanti sebagai Ketua Umum dan Anton Sukarna sebagai Sekretaris Jenderal.

Pemerintah menilai penguatan ekosistem bullion akan membuka peluang berkembangnya berbagai layanan keuangan berbasis emas, seperti tabungan emas, pembiayaan, perdagangan, hingga jasa penitipan emas.

Dalam jangka panjang, pasar bullion yang semakin kuat diharapkan mampu meningkatkan efisiensi industri, memperluas pembiayaan sektor riil, serta menarik lebih banyak investor domestik maupun internasional.

Pengembangan pasar bullion juga menjadi bagian dari strategi transformasi ekonomi nasional untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029 melalui hilirisasi, penguatan industri pengolahan emas, pengembangan jasa keuangan berbasis emas, serta penyempurnaan regulasi. (*)

Editor : Putut Ariyo
airlangga hartarto Bullion Bank Emas Emas Indonesia IBMA