batampos – Keterbatasan modal masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kondisi ini semakin terasa ketika permintaan meningkat, sementara kebutuhan stok harus dipenuhi dalam waktu singkat.
Tanpa pengelolaan arus kas yang baik, lonjakan pesanan justru dapat mengganggu operasional usaha. Karena itu, pelaku UMKM perlu mengatur permodalan secara cermat agar bisnis tetap berjalan dan kebutuhan pelanggan terpenuhi.
Pengalaman Ade, pemilik toko serba ada di kawasan Karet Tengsin, Jakarta Pusat, menunjukkan pentingnya strategi tersebut.
Berawal dari menjual camilan rumahan dengan modal Rp400 ribu, usahanya kini berkembang menjadi toko yang menyediakan perlengkapan kantor, aksesori ponsel, produk elektronik, hingga kebutuhan sehari-hari.
Dalam perkembangannya, omzet usaha tersebut bahkan pernah mencapai Rp98 juta per bulan. Namun, pertumbuhan penjualan juga menghadirkan tantangan baru, terutama dalam menjaga ketersediaan barang dan memenuhi pesanan dalam jumlah besar.
Awalnya, Ade memproduksi berbagai camilan dan memasarkannya secara digital. Namun, penjualan yang belum berkembang mendorongnya mencari peluang usaha lain.
Lokasi tempat tinggal yang berdekatan dengan kawasan perkantoran Sudirman kemudian menjadi pertimbangan untuk mengubah arah bisnis. Ade mulai menjual perlengkapan alat tulis kantor (ATK), seperti pulpen, buku, dan kertas HVS.
”Kami mengamati kebutuhan masyarakat di sekitar kawasan perkantoran. Prinsip kami adalah menyediakan apa yang dibutuhkan pasar, bukan sekadar menjual apa yang ingin kami jual,” ujar Ade.
Pada masa awal berjualan secara digital, Ade bahkan harus meminta bantuan mitra pengemudi untuk berkomunikasi dengan pelanggan.
Setiap permintaan produk yang belum bisa dipenuhi kemudian dicatat sebagai bahan evaluasi untuk menambah variasi barang.
Strategi tersebut membuat katalog tokonya terus berkembang. Dari yang semula hanya menjual camilan, Arvin Store kini menyediakan perlengkapan kantor, aksesori ponsel, dan berbagai kebutuhan harian.
Ade juga mulai memanfaatkan data penjualan untuk menentukan strategi bisnis. Evaluasi dilakukan secara berkala, mulai dari memperbaiki deskripsi produk, menyesuaikan harga, hingga memperhatikan kata kunci pencarian.
Momentum tertentu, seperti perayaan hari besar nasional dan musim pendaftaran sekolah, turut menjadi pertimbangan dalam menyiapkan persediaan barang.
”Evaluasi performa toko dilakukan secara berkala. Jika terjadi penurunan penjualan, kami segera mengoptimalkan deskripsi produk dan strategi harga agar tetap relevan dengan kebutuhan konsumen,” jelas Ade.
Seiring bertambahnya produk dan transaksi, pengelolaan bisnisnya juga berkembang. Kini, operasional penjualan digital dibagi menjadi dua toko, yakni Arvin Store yang berfokus pada ATK dan kebutuhan umum serta Arvin Elektronik untuk produk elektronik.
Pesanan Besar Tingkatkan Kebutuhan Modal
Pertumbuhan omzet tidak serta-merta menghilangkan persoalan permodalan. Bagi pelaku UMKM, peningkatan transaksi justru bisa memunculkan kebutuhan dana tambahan, terutama ketika harus membeli stok sebelum menerima pembayaran dari hasil penjualan.
Sejak 2023, Ade memanfaatkan fasilitas pembiayaan GrabModal Mantul dari OVO Finansial untuk membantu menjaga perputaran modal.
Dalam salah satu kesempatan, Ade menggunakan pembiayaan sekitar Rp10 juta untuk memenuhi kebutuhan usaha yang telah direncanakan.
”Dana yang saya ambil memang sudah memiliki posnya masing-masing sejak awal. Jadi, bukan mengambil pembiayaan lalu menyimpannya tanpa tujuan. Dengan cara ini, kebutuhan keluarga tetap bisa dibayar, stok usaha tetap tersedia, dan cash flow bisa kembali berputar dari omzet berikutnya,” ujar Ade.
Selain untuk pengadaan barang, pembiayaan tersebut juga pernah digunakan untuk merenovasi area kerja toko. Langkah itu dilakukan agar proses pengambilan pesanan oleh mitra pengemudi berjalan lebih efisien.
Bagi Ade, akses pendanaan harus disertai perencanaan matang. Pembiayaan tidak boleh sekadar menjadi tambahan uang yang digunakan tanpa perhitungan. Dana tersebut harus memiliki tujuan produktif dan disesuaikan dengan kemampuan pembayaran.
Prinsip ini penting bagi UMKM karena tambahan modal juga berarti tambahan kewajiban keuangan. Jika tidak dikelola dengan baik, pembiayaan justru berpotensi membebani arus kas usaha.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan UMKM tidak hanya bergantung pada peningkatan penjualan. Kemampuan membaca kebutuhan pasar, mengatur persediaan, mengevaluasi penjualan, dan merencanakan penggunaan modal juga menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan usaha. (*)
Editor : Cipi Ckandina