batampos – Dalam kurun waktu dua pekan terakhir, dua kasus percobaan bunuh diri terjadi di kawasan Jembatan 1 Barelang. Kedua peristiwa tersebut diduga dipicu persoalan asmara.
Kasus terbaru melibatkan seorang pemuda bernama Mario Sarlando Hutagalung. Ia berhasil diselamatkan nelayan yang tengah mencari cumi di perairan sekitar Barelang, Selasa (31/3) malam.
Sebelum ditemukan, warga sempat melihat sejumlah barang milik korban tertinggal di atas jembatan, seperti identitas kerja, sandal, dan telepon genggam. Dugaan aksi nekat pun langsung mencuat.
Baca Juga: Imbas Pungli di Pelabuhan Internasional Batam Center, Kepala Imigrasi Batam Dicopot
Kanit Reskrim Polsek Sagulung, Iptu Anwar Aris, mengatakan korban mengaku melakukan tindakan tersebut karena masalah hubungan pribadi.
“Dari pengakuannya, dipicu karena putus hubungan,” ujarnya.
Setelah dievakuasi, korban langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Kondisinya dilaporkan stabil dan hanya mengalami luka ringan.
“Korban sudah ditangani medis, kondisinya baik,” tambahnya.
Sebelumnya, seorang perempuan berusia 21 tahun juga sempat melakukan aksi serupa di lokasi yang sama. Upaya tersebut berhasil digagalkan oleh pengemudi ojek online bersama petugas kepolisian.
Fenomena ini menjadi perhatian serius. Psikolog Irfan Aulia menjelaskan, individu yang berada dalam tekanan emosional berat umumnya mengalami ruminasi, yakni pola pikir negatif yang berulang dan sulit dikendalikan.
Baca Juga: Satu Korban Disambar Petir Saat Berkebun di Setokok Mengalami Luka Bakar
“Kondisi ini membuat seseorang terus memikirkan hal-hal buruk tentang dirinya atau situasi yang dihadapi, hingga merasa tidak berdaya,” jelasnya.
Menurut Irfan, fase tersebut biasanya ditandai dengan perasaan kesepian, kehilangan tempat bercerita, serta anggapan bahwa masalah yang dihadapi tidak memiliki jalan keluar.
Karena itu, ia menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku seseorang. Dukungan emosional dan ruang untuk berbagi dinilai sangat krusial dalam mencegah tindakan berisiko.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental perlu mendapat perhatian serius, terutama di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks. (*)
Editor : M Tahang