Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Dari Vatikan, Pesan Damai untuk Dunia

Putut Ariyotejo • Senin, 19 Mei 2025 | 14:19 WIB
Fary Francis
Fary Francis

batampos — Minggu pagi yang cerah di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Dentang lonceng Basilika mengiringi ribuan umat yang memadati kursi-kursi di depan altar raksasa. Dari antara lautan peziarah, tiga wajah dari Indonesia muncul sebagai bagian dari delegasi resmi negara: Muhaimin Iskandar, Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat; Budi Arie Setiadi, Menteri Koperasi dan UKM; dan Fary Francis, Deputi IV BP Batam bidang Investasi dan Pengusahaan.

Mereka hadir mewakili Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah momentum yang sarat makna: pelantikan Paus Leo XIV, pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia. Upacara berlangsung sakral, di bawah langit Vatikan yang biru bersih, namun juga memancarkan kekuatan simbolik yang tak lekang oleh waktu.

Bagi Fary Francis, momen itu lebih dari sekadar seremoni keagamaan. Ia menyebutnya sebagai pelajaran besar tentang kepemimpinan, spiritualitas, dan harapan global. “Ada dua hal yang sangat menyentuh hati saya,” katanya kepada wartawan setelah upacara.
Pallium dan Cincin Nelayan

Yang pertama adalah kekuatan simbol-simbol suci dalam prosesi pelantikan. Paus Leo XIV menerima pallium—selendang wol putih bertanda lima salib merah—yang diselempangkan di bahunya sebagai lambang kasih dan pengorbanan seorang gembala umat. Wolnya dipintal dari domba yang telah diberkati, simbol pengorbanan Kristus.

Simbol lainnya, cincin nelayan (fisherman's ring), terbuat dari emas murni dan diukir dengan perahu Santo Petrus serta nama Paus baru. Cincin itu melambangkan otoritas apostolik sebagai penerus langsung dari pemimpin pertama Gereja Katolik.

    “Puncaknya adalah saat Paus memberkati Injil ke empat penjuru dunia dan menerima penghormatan dari lima benua—simbol kesatuan Gereja universal,” kata Fary.

Prosesi ditutup dengan doa bersejarah: Urbi et Orbi—“kepada kota dan dunia”. Kalimat Latin itu bukan sekadar liturgi, melainkan gema abadi dari Vatikan untuk dunia yang kerap dilanda perang dan perpecahan.
Damai yang Memanggil Umat Manusia

Kesan kedua Fary tertambat pada pesan perdamaian yang diucapkan Paus dalam sambutan perdananya:
“Semoga damai menyertai Anda, saudara-saudara terkasih.”

Pesan sederhana itu, kata Fary, mengandung gema spiritual yang kuat. Di tengah dunia yang rapuh oleh konflik dan kepentingan, suara dari Vatikan menyerukan kasih yang melampaui batas agama dan negara.

    “Paus Leo XIV mengajak Gereja untuk menjadi jembatan, bukan tembok. Hadir dengan tangan terbuka, bukan telunjuk yang menghakimi,” ujar Fary, mantan Ketua Komisi V DPR RI dan kini Komisaris Utama ASABRI.

Sebagai Paus pertama dari Amerika Serikat dan misionaris yang pernah melayani di pedalaman Peru, Leo XIV membawa pengalaman panjang di antara rakyat kecil. Kepeduliannya terhadap keadilan sosial dan solidaritas global menjadikannya harapan baru, bukan hanya bagi umat Katolik, tetapi juga masyarakat internasional yang mendambakan dunia yang lebih bersaudara.

    “Proficiat Paus Leo XIV. Selamat memimpin dan melayani dunia. Salam sukacita dari Indonesia. In Ilu Uno, Unum—dalam Dia yang Satu, kita menjadi satu,” tutup Fary.

Editor : Putut Ariyotejo
#vatikan