batampos – Kebijakan Indonesia mengimpor komoditas energi dari Amerika Serikat dinilai bukan sekadar memenuhi kebutuhan domestik, tetapi bagian dari strategi diplomasi dagang untuk menyeimbangkan hubungan ekonomi bilateral sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Batam sekaligus dosen Universitas Internasional Batam, Suyono Saputra, menilai langkah pemerintah tersebut merupakan keputusan strategis dalam merespons perkembangan perdagangan internasional.
Menurut dia, kebijakan impor energi dari AS berkaitan dengan Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump pada 19 Februari 2026.
Baca Juga: Kerusakan Kompresor, KMP Bahtera Nusantara 03 Batal Berlayar
“Saya melihat keputusan Presiden untuk merealisasikan impor dari Amerika itu memang salah satu keputusan politik. Ada tawar-menawar yang dimainkan pemerintah untuk menyerap komoditas dari Amerika ke Indonesia sebagai upaya mendekatkan diplomasi kedua negara,” katanya, Rabu (25/2).
Ia menjelaskan, Indonesia sebenarnya memiliki berbagai alternatif sumber energi. Namun, pengalihan pasokan dari kawasan Asia Tenggara ke AS memiliki nilai strategis yang melampaui pertimbangan ekonomi semata.
“Ini bagian dari tindak lanjut kesepakatan kedua negara. Jadi bukan sekadar soal membeli energi, tetapi ada dimensi diplomasi dagang di dalamnya,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, impor komoditas penting dari AS juga dapat menjadi instrumen merespons tudingan ketidakseimbangan neraca perdagangan yang selama ini disuarakan Washington. Langkah tersebut dinilai berpotensi menguntungkan kedua negara.
“Itu salah satu keputusan untuk mencapai trade balance antara Indonesia dan Amerika,” tambahnya.
Selain aspek perdagangan, kebijakan ini juga dinilai penting untuk menjaga ketersediaan energi nasional, terutama pasokan gas alam cair (LNG). Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia disebut berupaya memastikan ketahanan energi tetap terjaga di tengah fluktuasi pasar global.
“Yang dijaga bukan sekadar sumber impor, tetapi ketersediaan dan ketahanan energi nasional,” katanya.
Meski demikian, Suyono mengingatkan agar pembahasan publik tidak berkembang menjadi misnarasi seolah Indonesia menambah kuota impor energi. Kebijakan tersebut lebih tepat dipahami sebagai pengalihan sumber pasokan.
Ia juga menilai perlu kajian mendalam terkait skema harga LNG dari AS, setelah memperhitungkan biaya transportasi, regasifikasi, dan pengolahan, agar tidak membebani keuangan negara.
Baca Juga: 10.285 Pekerja Rentan Batam Dapat Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan
Direktur Eksekutif Batam Labor and Public Policy (BALAPI), Rikson P. Tampubolon, menilai polemik yang berkembang perlu ditempatkan dalam kerangka kepentingan nasional dan diplomasi ekonomi. Pemerintah, kata dia, telah menegaskan kebijakan tersebut bukan penambahan volume impor, melainkan pengalihan pemasok.
“Kalau kita menangkap apa yang disampaikan pemerintah, itu bukan penambahan, hanya pengalihan dari vendor satu ke vendor dua,” ujarnya.
Ia menambahkan, dinamika diplomasi perdagangan tidak dapat dilihat secara sederhana karena melibatkan banyak variabel, termasuk negosiasi tarif dan pertukaran kepentingan lintas sektor. Indonesia, menurutnya, tetap harus menjaga posisi sebagai negara non-blok sekaligus realistis membaca kalkulasi kebijakan pemerintah.
Pengalihan pasokan energi ke AS juga dapat dipahami sebagai bagian paket kebijakan yang lebih luas, termasuk peluang penurunan tarif bagi produk Indonesia di pasar Amerika.
“Kebijakan energi tidak berdiri sendiri. Ia terkait perdagangan, investasi, dan daya saing ekspor,” katanya.
Di sisi lain, Rikson mengingatkan pentingnya transparansi dan konsistensi pemerintah dalam mewujudkan swasembada serta ketahanan energi, agar tidak berhenti pada wacana elite semata. Penguatan cadangan energi dan pembangunan fasilitas penyimpanan, menurutnya, dapat menjadi indikator arah kebijakan yang lebih terukur.
“Kalau melihat roadmap pemerintah, tentu ada rasa optimis,” ujarnya. (*)
Editor : Jamil Qasim